Minggu, 26 Februari 2012

Qa’qa’ bin Amr di perang Qadisyah


Malam pun terus beranjak, berjalan menelusuri, dan menutupi kegilauan kota qadisyah saat itu, sehingga para tentarapun bersiap-siap untuk meletakkan senjata peralatan perang mereka, dan merebahkan badan untuk beristirahat.
Nah, pada hari itulah hari kedua peperangan qadisyah, yang mana peperangannya sama persis dengan hari kemarin yaitu penuh dengan kesulitan menghadapi kerasnya medan pertempuran. Walaupun kerasnya peperangan yang di lalui, namun mata seorang pahlawan yang bernama QA’QA’ tidak bias terpejam dan tertidur.
Bagaimana mungkin ia bias tidur terlelap seperti kaum muslilin yang  lainnya
Sedangkan kaum muslimin telah kejilangan kesabaran mereka, sambil menunggu pasukan tambahan yang di pimpin oleh HASYIM, sehingga semua pasukan hampir putus asa dan kebingungan.
Maka Qa’qa’ pun ber’azam dalam dirinya agar mengulang hari ini seperti hari kemarin.
Lantas Qa’qa’pun langsung membawa seribu pasukannya menuju tempat dimana mereka berada pada hari sebelumnya yang terletak jauh dari kota Qadisyah.
Kemudian Qa’qa’ memerintahkan kepada pasukannya untuk berangkat menuju kerasnya medan pertempuran apabila matahari telah terbit, dengan menyusun kelompok demi kelompok yang mana satu kelompok terdiri dari 100 pasukan, kemudian ia juga memerintahkan kepada pasukan mujahid kaum muslimin untuk pergi ke medan perang satu kelompok kemudian di susul kelompok yang lain begitulah seterusnya, dimana antara kelompok satu dengan kelompok dua berjarak sejauh mata memandang.
Dan Qa’qa’ menyuruh mereka untuk mengobarkan debu-debu ke udara dan berteriak-teriak langtang guna menyakinkan dan mengoptismiskan rasa kemenangan di dada kaum muslimin serta mewujudkan rasa kegalauan di dada kaum kuffar.
Tatkala pagi menjelang dengan diiringi dengan terbitnya matahari, maka seluruh bataliyon-bataliyon kaum muslimin yang dipimpin oleh Qa’qa’ yang berada di padang sahara bersiap-siap untuk menuju ke medan peperangan dengan diiringi lantangan takbir dan lantunan tahlil menguji Asma Allah..
Maka Qa’qa’pun tak lupa untuk memastikan barisan kaum muslimin dengan memeriksa satu bataliyon demi bataliyon dan menempatkan mereka pada posisinya masing-masing.
Namun Qa’qa’ tiba-tiba dikejutkandenagn semua bataliyon tersebut melebihi jumlah bataliyon yang semestinya. Ternyata Hasyim bin ‘Utbah telah sampai ke Qadisyah pada pagi itu juga.
Dan Hasyimpun melihat tentara-tentara Qa’qa’ dan menyaksikan apa yang mereka lakukan, maka Hasyimpun mengagumi perbuatan mereka, kemudian dia melakukan hal yang sama pula dengan membagi-bagi pasukan menjadi seratus-seratus orang. Dan memerintahkan kepada mereka untuk saling susul menyusul hingga sampai ke medan peperangan.
Maka dengan jumlah sebanyak ini rasa kepercayaan menangpun tidak dapat tergoyahkan dari dada kaum muslimin, dengan jumlah ini pula mereka menempatkan posisi mereka pada tempat yang sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing, sehingga mereka diibaratkan seperti bangunan yang berdiri kokoh.
Dan rasa keyakinanpun tercantap dalam hati masing-masing kaum muslimin, bahwa  hari ini mereka akan mendapatkan peluang yang sangat besar untuk meraih kemenangan bila dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Mana kala peperangan telah berkobar, maka kebanyakan kaum muslimin lebih memusatkan perhatian mereka pada pasukan bergajah sehingga mereka berhasil membunuh pasukan bergajah itu satu persatu.
Namun tatkala gajah-gajah ini melihat penunggangnya sudah tiada lagi alias sudah mati, sehingga ia mengamuk dan mengocar-ngacirkan barisan perang kaum muslimin, eolah-olah gajah itu bagaikan benteng yang bergerak dengan mengayun-ayunkan belalainya yang panjang kekiri dan kekanan, sehinggatidak satu orangpun yang tersisa di depannya.
Melihat hal itu Sa’ad bin Waqqash pun merasaka sebuah bencana yang melanda kaum muslimin yang dikarenakan oleh gajah-gajah tersebut. Dan dia menyakini bahwa kalau seandainya gajah-gajah itu tidak dimusnahkan maka rasa ketakutan, kelelahan, dan ketercerai-beraianpun akan menusuk ke barisan kaum muslimin dan tidak ada stu orangpun yang akan berani berperang setelah itu.
Diantara gajah-gajah itu ada dua gajah yang sangat berbahaya untuk di hadapi
1.    Gajah yang berwarna putih yang bernama ((Yazdajarda)) ia adalah gajah raja persi
2.    Gajah yang berwarna belang dia tidak memiliki rasa ketakuta ketika menghadapi musuh-musuhnya, sedangkan yang gajah-gajah yang lain hanya hanya mengikuti kedua gajah tersebut.
Kemudian Sa’ad bin Waqqash mewusyawarahkan hal tersebut kepada dua pemuad Persia yang telah masuk islam sebelumnya dan iikut perang bersama kaum muslimin, dan menanyakan kepada mereka tentang bagai mana  cara membunuh gajah-gajah itu, karena di Negara Arab sebelumnya belum pernah melihat gajah.
Maka merekapun seraya menjawab : congkel lah matanya, dan potonglah belalainya niscaya dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Maka lang Sa’ad mengutus Qa’qa’ bersamaan dengan saudaranya ‘Asyim untuk membunuh gajah yang berwarna putih dan memerintahkan dua orang lainnya dari bani asad untuk membunuh gajah yang berwarna belang.
Maka seraya Qa’qa’ dan saudaranya ‘Asyimpun menuju ke gajah yang berwarna putih, setibanya di kediaman tak jauh dari gajah tersebut, secara langsung dengan gagah beraninya Qa’qa’pun melemparkan tombaknya kemata sebelah kanan gajah tersebut, bagitui juga dengan saudaranya ‘Asyim melemparkantombaknya kemata sebelah kiri gajah putih itu.



((Bersambung….))