Minggu, 26 Februari 2012

Qa’qa’ bin Amr di perang Qadisyah


Malam pun terus beranjak, berjalan menelusuri, dan menutupi kegilauan kota qadisyah saat itu, sehingga para tentarapun bersiap-siap untuk meletakkan senjata peralatan perang mereka, dan merebahkan badan untuk beristirahat.
Nah, pada hari itulah hari kedua peperangan qadisyah, yang mana peperangannya sama persis dengan hari kemarin yaitu penuh dengan kesulitan menghadapi kerasnya medan pertempuran. Walaupun kerasnya peperangan yang di lalui, namun mata seorang pahlawan yang bernama QA’QA’ tidak bias terpejam dan tertidur.
Bagaimana mungkin ia bias tidur terlelap seperti kaum muslilin yang  lainnya
Sedangkan kaum muslimin telah kejilangan kesabaran mereka, sambil menunggu pasukan tambahan yang di pimpin oleh HASYIM, sehingga semua pasukan hampir putus asa dan kebingungan.
Maka Qa’qa’ pun ber’azam dalam dirinya agar mengulang hari ini seperti hari kemarin.
Lantas Qa’qa’pun langsung membawa seribu pasukannya menuju tempat dimana mereka berada pada hari sebelumnya yang terletak jauh dari kota Qadisyah.
Kemudian Qa’qa’ memerintahkan kepada pasukannya untuk berangkat menuju kerasnya medan pertempuran apabila matahari telah terbit, dengan menyusun kelompok demi kelompok yang mana satu kelompok terdiri dari 100 pasukan, kemudian ia juga memerintahkan kepada pasukan mujahid kaum muslimin untuk pergi ke medan perang satu kelompok kemudian di susul kelompok yang lain begitulah seterusnya, dimana antara kelompok satu dengan kelompok dua berjarak sejauh mata memandang.
Dan Qa’qa’ menyuruh mereka untuk mengobarkan debu-debu ke udara dan berteriak-teriak langtang guna menyakinkan dan mengoptismiskan rasa kemenangan di dada kaum muslimin serta mewujudkan rasa kegalauan di dada kaum kuffar.
Tatkala pagi menjelang dengan diiringi dengan terbitnya matahari, maka seluruh bataliyon-bataliyon kaum muslimin yang dipimpin oleh Qa’qa’ yang berada di padang sahara bersiap-siap untuk menuju ke medan peperangan dengan diiringi lantangan takbir dan lantunan tahlil menguji Asma Allah..
Maka Qa’qa’pun tak lupa untuk memastikan barisan kaum muslimin dengan memeriksa satu bataliyon demi bataliyon dan menempatkan mereka pada posisinya masing-masing.
Namun Qa’qa’ tiba-tiba dikejutkandenagn semua bataliyon tersebut melebihi jumlah bataliyon yang semestinya. Ternyata Hasyim bin ‘Utbah telah sampai ke Qadisyah pada pagi itu juga.
Dan Hasyimpun melihat tentara-tentara Qa’qa’ dan menyaksikan apa yang mereka lakukan, maka Hasyimpun mengagumi perbuatan mereka, kemudian dia melakukan hal yang sama pula dengan membagi-bagi pasukan menjadi seratus-seratus orang. Dan memerintahkan kepada mereka untuk saling susul menyusul hingga sampai ke medan peperangan.
Maka dengan jumlah sebanyak ini rasa kepercayaan menangpun tidak dapat tergoyahkan dari dada kaum muslimin, dengan jumlah ini pula mereka menempatkan posisi mereka pada tempat yang sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing, sehingga mereka diibaratkan seperti bangunan yang berdiri kokoh.
Dan rasa keyakinanpun tercantap dalam hati masing-masing kaum muslimin, bahwa  hari ini mereka akan mendapatkan peluang yang sangat besar untuk meraih kemenangan bila dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Mana kala peperangan telah berkobar, maka kebanyakan kaum muslimin lebih memusatkan perhatian mereka pada pasukan bergajah sehingga mereka berhasil membunuh pasukan bergajah itu satu persatu.
Namun tatkala gajah-gajah ini melihat penunggangnya sudah tiada lagi alias sudah mati, sehingga ia mengamuk dan mengocar-ngacirkan barisan perang kaum muslimin, eolah-olah gajah itu bagaikan benteng yang bergerak dengan mengayun-ayunkan belalainya yang panjang kekiri dan kekanan, sehinggatidak satu orangpun yang tersisa di depannya.
Melihat hal itu Sa’ad bin Waqqash pun merasaka sebuah bencana yang melanda kaum muslimin yang dikarenakan oleh gajah-gajah tersebut. Dan dia menyakini bahwa kalau seandainya gajah-gajah itu tidak dimusnahkan maka rasa ketakutan, kelelahan, dan ketercerai-beraianpun akan menusuk ke barisan kaum muslimin dan tidak ada stu orangpun yang akan berani berperang setelah itu.
Diantara gajah-gajah itu ada dua gajah yang sangat berbahaya untuk di hadapi
1.    Gajah yang berwarna putih yang bernama ((Yazdajarda)) ia adalah gajah raja persi
2.    Gajah yang berwarna belang dia tidak memiliki rasa ketakuta ketika menghadapi musuh-musuhnya, sedangkan yang gajah-gajah yang lain hanya hanya mengikuti kedua gajah tersebut.
Kemudian Sa’ad bin Waqqash mewusyawarahkan hal tersebut kepada dua pemuad Persia yang telah masuk islam sebelumnya dan iikut perang bersama kaum muslimin, dan menanyakan kepada mereka tentang bagai mana  cara membunuh gajah-gajah itu, karena di Negara Arab sebelumnya belum pernah melihat gajah.
Maka merekapun seraya menjawab : congkel lah matanya, dan potonglah belalainya niscaya dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Maka lang Sa’ad mengutus Qa’qa’ bersamaan dengan saudaranya ‘Asyim untuk membunuh gajah yang berwarna putih dan memerintahkan dua orang lainnya dari bani asad untuk membunuh gajah yang berwarna belang.
Maka seraya Qa’qa’ dan saudaranya ‘Asyimpun menuju ke gajah yang berwarna putih, setibanya di kediaman tak jauh dari gajah tersebut, secara langsung dengan gagah beraninya Qa’qa’pun melemparkan tombaknya kemata sebelah kanan gajah tersebut, bagitui juga dengan saudaranya ‘Asyim melemparkantombaknya kemata sebelah kiri gajah putih itu.



((Bersambung….))

Sabtu, 25 Februari 2012

Hukum Main POKER di facebook

Allah SWT telah memperingatkan dgn tegas mengenai bahaya judi ini di dalam surat Al-Maidah ayat 90 - 91

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٩٠) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (٩١)

Maksudnya 90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Sekalipun hiburan dan permainan itu dibolehkan oleh Islam, tetapi ia juga mengharamkan setiap permainan yang dicampuri perjudian, yaitu permainan yang tidak luput dari untung-rugi yang dialami oleh si pemain. Oleh kerana itu tidak halal seorang muslim menjadikan permainan judi sebagai alat untuk menghibur diri dan mengisi waktu lapang. Begitu juga tidak halal seorang muslim menjadikan permainan judi sebagai alat mencari wang dalam situasi apapun.

Mungkin ada beberapa orang di halaman ini yang suka bermain zynga poker sekadar untuk hiburan semata-mata. namun tidak menutup kemungkinan hal tersebut nantinya akan membawa kita ke dalam bisikan iblis. perlahan namun pasti nantinya akan menjerumuskan kita kedalam perjudian. mengikis sedikit demi sedikit kadar keimanan kita. perjudian itu juga dapat menimbulkan permusuhan dan pertentangan antara pemain-pemain itu sendiri, kendati nampak dari mulutnya bahwa mereka telah saling merelakan.

Sebab bagaimanapun akan selalu ada pihak yang menang dan yang kalah, yang dirampas dan yang merampas. Sedang yang kalah apabila diam, maka diamnya itu penuh kebencian dan dendam.marah kerana angan-angannya tidak dapat tercapai atau karena taruhannya itu sial, maka ia menyalahkan dirinya sendiri karena kekalahan yang dialami dan tangannya yang menaruhkan taruhannya dengan membabi-buta. bahkan ramai yang mengucapkan kata kata kotor dan cabul akibat tidak berpuas hati atau kalah dan" dibanned".

Judi Poker Adalah Judi Moden..hukum Haram, Segala benda yang ada Kait dengan Judi..sama ada Online atau Secara Langsung..Hukum Haram.

Yang terjadi selanjutnya adalah Kerugiannya itu mendorong pihak yang kalah untuk mengulangi lagi, dan berharap barangkali dengan mencuba lagi untuk yang kedua kalinya dapat menutup kerugiannya, yang pertama, kemudian jika kalah lagi maka akan semakin membuat sang pemain menjadi semakin ingin balas dendam. Sedang yang menang, karena didorong oleh seronoknya menang, maka ia tertarik untuk mengulangi lagi. Kemenangannya yang sedikit itu mengajak untuk dapat lebih banyak. Sama sekali dia tidak ada keinginan untuk berhenti. Dan makin berkurang pendapatannya, makin dimabuk oleh kemenangan sehingga dia beralih dari kemegahan kepada suatu kesusahan yang mendebarkan. Begitulah berkaitnya putaran dalam permainan judi dan tidak akan pernah selesai, sampai apa tidak tidak sanggup lagi / tidak ada lagi yang digunakan untuk bermain judi.

hobby ini merupakan bahaya yang mengancam masyarakat dan individu. Hobby ini menbazir waktu dan masa hidup dan menyebabkan si pemain-pemainnya menjadi manusia yang tamak, mereka mau mengambil hak milik orang tetapi tidak mau memberi, menghabiskan barang tetapi tidak dapat berproduksi.Selamanya pemain judi sibuk dengan permainannya, sehingga lupa akan kewajibannya kepada Tuhan, kewajibannya akan diri, kewajibannya akan keluarga dan kewajibannya akan ummat. Hiburan / permainan Zynga Poker ini dapat menaburkan benih permainan judi dengan segala macam cara.

Zinga Poker ...... !! Hiburan / Judi....?

1. Penjualan Chips (pengalihan taruhan uang dalam bentuk alat untuk bermain judi) di permainan Zinga Poker memang taruhannya bukan wang, tapi membeli chip dengan wang untuk bertaruh, bererti taruhannya juga dengan wang, tidak ada bezanya permainan poker Las Vegas yang mungkin kita pernah lihat di film-film dimana permainannya juga menggunakan chip yang kemudian ditukar dengan wang. lantas dimana bezanya? Permainan poker yang nyata di Las Vegas adalah sebuah judi yang haram, maka game Zinga poker online itu juga haram karena cara mainnya pun sama sepenuhnya.

2 yang mengatakan itu bukan haram bukan karena sudah kadung asyik memperoleh banyak keuntungan dari permainan ini lantas begitu sulit untuk menerima bahwa permainan ini haram.

Maaf abang, kalau taruhan tidak pakai modal bagaimana?

menjual chip itu kemudian untuk dipertaruhkan kembali dalam permainan tersebut, masih dalam kawasan judi bukan? kalaupun pelaku mengatakan ia tidak melakukan judi karena tidak mengeluarkan modal, tapi sejatinya ia justru sedang menjadi perantara dan berada ditengah-tengah para penjudi. masih berada di dalam sistem kemungkaran tersebut. mungkin sebagian orang menganggap tidak berjudi karena tidak mengeluarkan modal. akan tetapi jika kita bermain secara tidak langsung kita telah membantu menyuburkan taruhan perjudian itu sendiri.

Allah Swt berfirman Dalam Surat Al Maidah ayat 2 yang Maksudnya ".....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

dengan kita ikut bermain maka kita juga ikut berperan aktif dalam meramaikan perjudian itu sendiri.

Syarat suatu hal dikatakan sebagai sebuah judi:
1. adanya harta yang dipertaruhkan;
2. adanya suatu permainan yang digunakan untuk menentukan pihak yang menang dan pihak yang kalah;
3. pihak yang menang akan mengambil harta (yang menjadi taruhan) dari pihak yang kalah (kehilangan hartanya).

jadi untuk poker itu jelas2 telah memenuhi ketiga unsur diatas. meskipun ada sahabat Anda yang bermain poker tanpa modal, tapi sesungguhnya permainan ini tetap mengambil wang pembayaran dari peserta lainnya untuk kemudian dipertaruhkan kembali. beza halnya kalau peserta sama sekali tidak dipungut biaya sepeser pun dan hadiah yang diberikan dari permainan ini murni berasal dari pihak sponsor. permainan ini benar-benar sudah membuming di kalangan remaja, hingga membutakan mereka.

Mari bersama kita hindari dari diri kita pribadi, keluarga / saudara, dan teman, agar sebaiknya menghindari permainan Zynga Poker ini...Nauzubillahi min zalik...

Perang qadisyah



Ketika peperangan di Qadisiyah, peperangan besar Kaum Muslimin di bawah pimpinan Panglima Besar Sa’ad bin Abi Waqash, salah seorang dari sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, berhadapan dengan Kerajaan Persia di bawah pimpinan Panglima Rustum. Sebelum berperang terlebih dulu Panglima Rustum meminta untuk berunding. Sa’ad bin Abi Waqash mengangkat Mughirah bin Syu’bah jadi Kepala Delegasi memenuhi anjuran berunding itu. Sebelum Utusan Muslimin datang, Rustum menyuruh disediakan jemputan dan sambutan untuk Utusan Islam itu dengan meriah sekali. Tenda-tenda berlapis sutera, hamparan permaidani beraneka warna, senjata lengkap, pedang-pedang yang bersarungkan emas dan perak, bertahtakan ratna mutu manikam. Wazir (mentri) dan orang-orang besar dan Panglima-Panglima Perang memakai mahkota-mahkota bertatahkan intan berlian, Rustum sendiri bersemayam di atas sebuah singgasana keemasan berturang-turang dengan mutiara dan merjan.
Semuanya siap menunggu perutusan Islam. Timbulnya penyambutan seperti itu adalah karena salah sangka. Mereka menyangka bahwa orang-orang Arab itu jika telah melihat harta benda kekayaan yang begini besarnya, menyilaukan mata, akan kendor hatinya untuk melanjutkan perang. Lalu suruh saja mereka pulang saja ke negerinya dengan membawa “oleh-oleh”.Melihat kekayaan itu, pasti orang-orang Arab itu akan mundur dan semangatnya patah. Begitulah yang dipikir oleh Rustum.
Tetapi setelah melihat penyambutan yang seperti itu, dari jauh Ketua Utusan telah mahfum apa yang dimaksud musuh dengan penyambutan begitu. Lalu dia berbisik kepada anggota-anggota perutusan,”Kalian lakukan apa yang nanti aku lakukan!”
Ketua Delegasi langsung masuk ke dalam ruang penyambutan yang beralaskan permaidani tebal dan berturangkan sutera itu tanpa turun dari kudanya. Setelah sampai di tengah ruangan, baru ia turun dari kudanya dan anggota-anggota delegasipun serentak turun, sehingga hamparan-hamparan mahal itu diinjak-injak oleh kuda. Kemudian mereka memautkan kuda-kuda tunggangan mereka pada tonggak-tonggak tenda yang dipasang, sehingga berbisik-bisiklah para pengawal bahwa Utusan-utusan Arab ini tidak tahu sopan santun dan etiket pergaulan raja-raja.
Setelah berhadapan dengan Utusan Kaum Muslimin tersebut, dengan sombong dan angkuhnya, Rustum menegur, seakan-akan kata memerintah :
“Apa yang menarik hati kalian keluar dari negeri kalian lalu menyerang ke dalam negeri kami yang kaya raya ini? Apakah karena kalian kurang makan? Jika demikian, pulanglah kembali. Akan kami perlengkapkan persediaan makanana buat kalian.
Apakah karena kalian bertelanjang, tidak berkain dan berbaju? Jika demikian, pulanglah! Akan kami sediakan kain baju sampai memuaskan kalian.
Apakah karena kalian melarat miskin? Jika demikian, pulanglah, kami akan memberi anugerah emas perak buat kalian, supaya kalian mengecap kekayaan pula”.
Mughirah bin Syu’bah (salah seorang sahabat yang langsung mendapat didikan juga dari Nabi SAW, yang nyaris menempeleng utusan Quraisy, pada perundingan di Hudaibiyah di tahun keenam Hijriyah, karena ketika bercakap, utusan Quraisy itu mengangkat-angkat tangannya dihadapan Nabi SAW, sehingga nyaris tersinggung jenggot Nabi SAW). Mughirah lalu menjawab pertanyaan Rustum :
“Engkau salah sangka! Bukan untuk apa yang engkau sangka itu kami datang menyerbu ke negeri ini dan siap berjuang berkuah darah bersabung nyawa. Bukan karena lapar, bukan karena bertelanjang kurang kain, kurang baju, bukan karena kekurangan perhiasan dan kekayaan dan kemegahan. Sudah engkau lihat sendiri, sepeserpun tidak ada harganya bagi kami permaidani-permaidani tebal ini, emas perak yang engkau hidangkan ini, mahlota-mahkota yang berhiaskan ratna mutu manikam yang memberatkan kepala kalian ini, bantal-bantal penyenang duduk berhiaskan mutiara dan merjan. Omong kosong semua. Bahkan kami datang kepada kamu kemari karena kami mempunyai tugas yang diterima langsung dari Allah, untuk menyampaikan Kalaimatul Haq, Kata-Kata Kebenaran kepada kalian. Kalian hidupdalm jalan fikiran yang gelap selama ini! Kami datang hendak membimbing kalian kepada tempat yang terang. Kalian selama ini hanya budak-budak dari benda-benda itu.Kalau kalian mau menerima ajakan dan anjuran kami, negeri ini tetap di tangan kalian dan kami akan pergi ke tempat lain pula menyerukan seruan ini, dan sejak kini kita hidup bersama dalam satu keyakinan dan Iman, tidak ada kelebihan kami dari kalian dan tidak ada kekurangan kalian dari kami”.
Tetapi Rustum mendengarkan jawaban itu dengan sombong dan angkuhnya, sehingga perundingan gagal, dan peperangan hebat Qadisiyah yang terkenal itupun terjadi. Kedaulatan Persia yang megah, Kerajaan Bani Sasan yang telah berusia beratus tahun sebelum itupun jadi runtuh. Maka tidaklah menolong kuda, kendaraan berpelana berterawang emas, pedang jinawi bersalut emas, mahkota bertatah ratna mutu manikam. Tidaklah ada faedahnya sama sekali, berhadapan dengan suatu tentara yang baru bangkit, penih keimanan, tidak takut mati, yang pedangnya memutuskan leher musuh bukan karena sarungnya emas, tetapi karena tangan yang mengayunkannya kuat dan mata pedangnya tajam.

Jumat, 10 Februari 2012

Biografi Dua Istri Rasulullah SAW


 Khodijah binti Khuwailid

Istri Yang Tercinta
Wahai Muslimah…
Mengapa kita harus mencari panutan yang lain,
Kalau di hadapan kita ada sosok yang paling baik,
dan Mulia Ibu bagi orang Mukminin…
Istri yang setia lagi Taat…
Sebagai penentram hati sang suami…
 

dan sebaik-baik teladan bagi kaum wanita…
Simaklah sabda Rasulullah :
“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu ‘anhu).
“Dan sebaik -baik wanita dalam masanya adalah Khadijah”
Dialah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama. Ia lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”.
Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga laki-laki, diantaranya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelum beliau menjadi suaminya).
Sebenarnya Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan meninggalkan seorang putera.
Pada masa jandanya, banyak tokoh Quraisy yang ingin mempersuntingnya. Namun ia selalu menolaknya. Dibalik semua itu, Allah memang telah mempersiapkan Khadijah binti khuwailid untuk menjadi pendamping Rasul-Nya yang terakhir, yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk pembela dan penolong risalah yang beliau sampaikan.
Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 tahun.
Perbedaan usia tidaklah menimbulkan permasalahan bagi rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu membentuk rumah tangga dengannya tidak mempunyai isteri yang lainnya.
Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai beberapa putera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.
Suatu hari Khadijah mendapatkan suaminya pulang dalam keadaan gemetaran. Terpancar dari raut wajahnya kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar.
“Selimuti aku!…., Selimuti aku!…, “ seru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada isterinya. Demi melihat kondisi yang seperti itu, tidaklah membuat Khodijah menjadi panik. Kemudian diselimuti dan dicoba untuk menenangkan perasaan suaminya. Rasul pun segera menceritakan pada istrinya, kini tanpa disadarinya, tahulah ia bahwa suaminya adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tenang dan lemah lembut, Khadijah berkata : ”Wahai putera pamanku, Demi Allah, dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sesungguhnya engkau termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, setia memikul beban, menghormati dan suka menolong orang lain”. Tutur kata manis dari sang istri menjadikan beliau lebih percaya diri dan tenang. Khadijah, …sungguh mulia akhlaqmu.
Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban oleh beliau dari Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Wanita pertama yang beriman kepada Allah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya menuju jalan Rabb-Nya. Dia yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam. bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya.
Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawa. Seorang pendorong utama bagi Rasul untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat di pundak Rasul. Perhatikan pujian Rasul terhadap Khadijah :
“Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)
Kebijakan, kesetiaan dan berbagai kebaikan Khadijah tidak pernah lepas dari ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai Khadijah meninggal. Ia benar-benar seorang istri yang mendapat tempat tersendiri di dalam hati Rasulullah shallallalhu ‘alaihi wa sallam. Betapa kasih beliau kepada Khadijah, dapat kita simak dari ucapan ‘Aisyah . “Belum pernah aku cemburu terhadap istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih kambing dan dibagikannya kepada kawan-kawan Khadijah. Bahkan pernah saya tegur, seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah, lalu Nabi menyebut beberapa kebaikan Khadijah, dia dahulu begini dan begitu, selain itu, aku mendapat anak daripadanya.”
Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 65 tahun. Kepergiaannya membuat kesedihan yang sangat mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umat Islam. Ia pergi menghadap Rabb-Nya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak terlupakan.
Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan peghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah di Syurga. Sebagaimana telah disebut dalam hadist dari Abu Hurairah: “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu).
Wahai orang yang terperdaya, .. istana tersebut lebih baik dari pada gemerlapnya dunia yang telah memperdayakanmu. Dan ini adalah sebaik-baik kabar gembira dibanding dunia dan segala isinya. Tidakkah kalian ingin mendapatkannya pula?
Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada Khadijah atas segala jasa dan kebaikanya dalam membela agama dan Rasul-Nya dengan balasan yang sebaik-baiknya, penuh kenikmatan dan kecemerlangan di dalam “istananya”
disunting dari: Khodijah binti Khuwailid






Aisyah binti Abu Bakar


Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya ketabahan menghiasi kesendiriannya guru besar bagi kaumnya pendidikan kekasih Allah telah menempanya.
Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq , yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka memanggilnya “Humaira”. ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy.
Ketika umur 6 tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah :”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).
Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Aisya radhiyallahu ‘anha :” Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan?.” Aisyah menjawab :”Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu. Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya.”
Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Seperti kisah beliau sepulang dari perang Hunain, yang dikenal dengan haditsul ifqi. Ketika mendekati kota Madinah, beliau kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu. Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan menyabut Asma Allah lalu Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki. Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Fitnah ini menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta mensucikan beliau dalam Al-Qur’anul Karim dalam surat An-Nur ayat 11-23.
Diantara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu Aisyah radhiyallahu ‘anha berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits dibalik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.
Dengan kesederhanaannya, beliau juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti puasa Daud. Kesederhanaan juga nampak ketika kaum muslimin mendapatkan kekayaan dunia, beliau mendapatkan 100.000 dirham. Saat itu beliau berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa sisa sedikitpun. Pembantu wanitanya mengingatkan beliau :”Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging 1 dirham buat berbuka?” Aisyah menjawab : ”Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat.”
Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan kezuhudannya terhadap dunia menambah kemuliaan.
Disunting dari : Aisyah binti Abu Bakar