Rabu, 28 November 2012

Derita Membutakan Hatiku


Derita Membutakan Hatiku


Malampun terus beranjak pergi berjalan menelusuri kota yang permai, menetupi kegilauan kota aceh pada saat itu. Semua santripun bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah di masjid.
Seusai melaksanakan shalat,semua santri berduyun-duyun sambil berlari-lari menuju dapur umum untuk mendapatkan sepiring nasi guna menghilangkan rasa lapar yang telah mereka tahan seharian penuh, dengan lahapnya mereka memakan santapan malam itu,bagaikan singa yang tengah mencari mangsanya.
Tanpa terasa,adzan isyapun telah berkumandang dan akhirnya mereka bergegas mencuci piring-piring yang telah dikotori dengan makanan,dan meraka langsung menuju masjid,shalat dan baca al-qur'an.
Namun di kegembiraan banyaknya santri dan santriwati itu, aku duduk  diantara mereka yang hanya diam membisu seribu bahasa,tidak berbicara meski hanya sepatah kata.
Setelah melaksanakan shalat isya, sesuai dengan rutinitas semua adalah belajar individual di kelas masing-masing. Namun, ketika itu aku duduk termangu melihat keindahan langit yang di hiasi oleh bintang gemintang mengeluarkan cahaya cinta yang agung, mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah, sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.
Rasa ingin tau dan penasaranpun datang menghampiri hatiku, ternyata tanpa kusadari aku telah jatuh cinta kepada penduduk langit itu, ahkirnya aku mencoba untuk mencari-cari perhatiannya, dan rasa keinginanpun untuk menghabiskan malam ini bersama bintang itu kini kian menjadi-jadi.
Tapi entah mengapa dipersimpangan malam yang penuh dengan keindahan, aku merasakan ada yang tersakiti di bagian dalam tubuh mungilku, seakan-akan hatiku cemburu melihat bintang bermesraan dengan bulan itu. Namun, aku bingun ketika ku rasakan cemburu, kurasakan ada yang datang tiba-tiba dengan kebengisannya langsung menusuk jantungku yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata dan tak mampu jua kurasakan dengan panca indra.
Kenapa….???  Mengapa…???  Dari mana..???
Ada apa…???  Pertanyaan itu datang bertubi-tubi menghantui diri yang dha'if ini, aku bingun harus berbuat dan berkata apa. Ku tundukan kepala ini memohon ampuanan  Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.
Kucoba bertanya kepada rumput-rumput yang bergoyang dengan diiringi tiupan angin lembut yang membawa kasih sayang serta cintanya kepada semua makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini.
Namun apa jawabnya, dia hanya diam membisu, dia tidak menghiraukanku, dia tak mengerti perasaanku. Lalu ku kabarkan kepada gunung berdiri tegap, kokoh di hadapanku,yang dihiasi tumbuh-tumbuhan dari pepohonan sampai rerumputan. Namun, dia tak jua berkata apa-apa, dia hanya diam seribu bahasa, akhirnya tinggalah aku sendiri terpaku menatap langit, dengan anggapan barangkali disana ada jawabannya.
Tak kusadari ternyata malampun telah larut, jamkupun telah menunjukan pukul 00:00 dini hari,  sekali lagi kupaksakan meninta kepada robbii yang mengetahui rasa ini sambil kuteteskan air mata kepiluan, akhirnya "ya sudah lah"  ucapku dalam hati sambil kucoba melangkahkan kaki ini menuju asrama tempat tidurku  meski dengan rasa bingung menyertaiku, tanpa pikir panjang ku langsung mengambilkan selimut kesayanganku sambil ku ucapkan " Bismika Allahumma ahya wa bismika amut"  akupun langsung merebahkan badan dan memejamkan mata dan langsung tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung ke kamar mandi, dengan disertai rasa ngantuk kupaksakan mengulurkan tangan tuk mengambil setetes air dan kupercikan kewajah ngantukku, seusai bewudhu' aku mengganti pakain shalat dan langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh,tanpa merapikan tempat tidur, biasanya setelah bangun aku langsung merapikan tempat tidur, namun hari ini ada sedikit kejangkalan dalam diri ini.
Seusai melaksakan shalat subuh, ku ambilkan sebuah al-qur'an utsmani dari dalam kantong bajuku, Kucoba untuk membacanya. Namun aku tak bias serius, pikiranku buyar, lidah ini terasa berat untuk mengungkapkan kata demi kata dari al-qur'an itu, bibir ini terasa menolak untuk membacanya. Akhirnya kuhentikan bacaan sambil ku ucapkan "Astaghfirullah" dengan nada menghambakan diri di hadapan Allah yang maha segala maha,sambil kupejamkan mata dan kutundukan kepala memohon ampunan-Nya.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bingun yang menyertai diri ini. Shubuh yang biasanya kulalui dengan lantunan al-qur'an kini hal itu lari menjauh dari diriku, Akhirnya aku keluar dari masjid menuju kelas belajar. Angin pagipun menghembus dengan keras menerpa wajah ini, rasa dinginpun kini menusuk tubuhku, namun  ketika hendak melangkahkan kaki ini masuk kedalam kelas tiba-tiba saja kakiku terhenti sejenak ketika ku melihat tempat ku berdiam diri tadi malam, seolah-olah ia menarik hati ini untuk bersama lagi dengannya, tiba-tiba saja datang salah seorang teman mengujutkanku sambil berteriak.
"Hoi…" katanya di telingaku, dengan sepontan aku terkejut dan melompat sambil mengeluarkan sedikit jurus ular yang telah kupelajari sebelumnya.
"Astaghfirullah" kataku panjang-panjang.
"antum kenapa akhi..? ana liatin dari tadi malam antum asyik termenung aja, memang ada masalah ya dengan antum..? certain dong ma ana mana tentu ana bisa bantu, meski nggak sepenuhnya minimal ada lah pemberian dari ana, meski bukan berbentuk meteri tenagapun jadi lah" tanyanya memprihatinkanku, dia adalah mahli teman dekatku selama ini.
"Ana nggak tau juga ni akhi, entah kenapa akhir-akhir ini ana teringat terus ma orang tua di rumah, apalagi tadi malam ana hampir nggak bias tidur" jawabku.
"Antum nggak usah terlalu terbuai dengan pikiran-pikiran yang mampu melalaikan belajar antum, kita kesini kan di amanahkan untuk belajar" katanya menasehatiku, ia tak mengerti perasaan ini, dan akupun tak mampu menjelaskan kepadanya.
" ya udah, ayo kita ke kamar,bentar lagi kita kan mau lari pagi keliling pesantren ama temen-temen" ajaknya.
"ayo" jawabku. Kamipun bergegas menuju kamar tempat tidur.
seusai melaksanakan lari pagi, kami istirahat sejenak menghentikan letih dan penat.
Tiba Ibu tukang masak dapur umum memanggil kami semua untuk mengambil bubur dan susu, santapan sebelum sarapan pagi.
Seusai makan dengan secara tiba-tiba, bumi menggoncangkan dirinya dengan keras seakan-akan ia ingin merobohkan bangunan yang berdiri tinggi de depan dayahku, di saat itu aku tak bisa bergerak apa-apa, karena aku adalah orang yang sukar pusing  kepala apabila gempa bumi datang,akhirnya aku memaksa untuk meraih sebuah pohon di hadapanku, namun aku tak kuasa, dengan sekejap temanku
"Astaghfirullah…" kata mahli melihat diriku sudah tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam, rasanya diri ini ingin lari sekencang-kencangnya, tapi aku tak mampu, seakan-akan ada rantai besar yang mengikat kaki ini.
Akhirnya goncanganpun berhenti,dengan tiba-tiba aku teringat dengan kebua orang tua dan adik-adikku di rumah, aku bimbang, aku takut terjadi apa-apa sama mereka, rasa kegalauanpun kian makin menjadi-jadi.
Kulalui hari ini dengan rasa penasaran dan kebimbangan,memikirkan orang tua,saudara,handai dan taulan di kampung halaman, rasanya aku ingin pulang kerumah, ingin mengetahui pasti keadaan mereka,tapi tak diberi izin oleh ustadz untuk keluar hari ini.
Akhirnya bundaku menelpon salah seorang ustadz yang ada didayah tersebut, Alhamdulillah kini hatiku mulai tenang.
"sekarang antum udah tenang kan..?" Tanya mahli secara tiba-tiba.
"Alhamdulillah" jawabku.
"ya udah sekarang mari kita ke kamar"
"tapi mengapa disisi lain hatiku masih tak puas dengan penjelasan bundaku ya Li.?" Tanyaku.
" udah nggak usah dipikirin lagi, yang terpenting sekarang adalah mereka selamat,sehat-sehat saja, antum kan udah berbicara langsung dengan bunda antum." Jawabnya.
"ya Insya Allah, semoga tak ada terjadi apa-apa sama mereka" sambutku pula, sambil berjalan menuju kamar.
Detikpun terus berjalan menelusuri hari, menitpun tak mau kalah, jampun terus berjalan berganti-ganti jam, beberapa hari setelah kejadian itu, terdengarlah sebuah berita dari TV yang isinya.
" Aceh menantikan uluran tangan kita semua untuk menyembuhkan lukanya".
lantas secara langsung aku meneteskan air mata kesedihan, ku merasakan perih yang amat dalam, melihat saudara-saudaraku dilanda banjir oleh tsunami, ku melihat ada yang teriak menangis terngau-ngau mengadukan semuanya kepada Allah, ada pula yang berteriak sambil melantunkan suara takbir " Allahu Akabar, la ilaaha illallah" mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah.
Lantas temanku mahli berkata " antum sudah lihat itu akhi,apa yang mereka rasakan tak sebanding dengan apa yang antum rasakan saat ini, kenamakah mereka akan mengadu kalau sudah seperti ini.? Tidak akhi, tidak apapun yang bisa mereka lakukan." Katanya. Dia tak tau kalau kata-katanya itu membuat hatiku semakin terluka.
Akhirnya aku mencoba mencari-cari tempat yang bisa mengulurkan bantuan ke Banda Aceh dan sekitarnya, sehingga ada seorang ustadz yang mengumumkan " siapa yang mau memberikan bantuan silahkan masuk ke kelas masing-masing” akupun langsung menuju kelas dengan membawa beberapa pakaian kesayangan yang kumiliki dan langsung memberikannya kepada ustadz tersebut.
Tabi-tiba si Mahli datang menghampiriku dan berkata.
"Akhi Ham" itulah panggilan akrabku selama didayah modern ini.
"apa..?" tanyaku
" ana ada perlu sedikit sama antum ini, ini sangat penting sekali" aku mulai penasaran melihat wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang memang harus aku ketahui, dia membawa dan menariku masuk ke dalam kamar.
" antum jangan panik dulu ya, insya Allah ana dan seluruh orang yang ada di Dayah ini akan selalu bersama antum disini, ingat kita kemari untuk belajar bukan apa-apa." Katanya memulai pembicaraan.
Lantas aku menjawab " ya aku tau hal itu, katakan saja apa yang ingin antum katakan" tiba-tiba dia memelukku sambil mengeluarkan air mata,akupun mulai heran dan bertanya-tanya
" antum kenapa akhi…?"  nada lembutku membujuk hatinya.
" antum jangan sedih ya, aku nggak mau antum nanti terbebani, ana barusan dapat Sms lewat Hp ustadz Harun " kemudian dia diam sejenak, karena tak sabar dan penasaranpun menjadi-jadi, ku bertanya kepadanya.
" apa isi smsnya akhi..?" dia hanya menangis, rasanya ia tak sanggup menahan perih tersebut. Dengan berat lidah ia berusaha memberitahuku.
" tadi ustadz dapat sms dari kampong antum, mereka mengabarkan bahwa ayah antum telah tiada" aku mulai tak mendengar perkataannya.
"antum yang sabar ya akhi, ma'afkan aku memberitahunya secara tiba-tiba" tapi aku tak lagi mendengar perkataanya. Aku langsung tak sadarkan diri,air mataku terus-menerus mengalir bagaikan air.
Namun mahli sebagai teman yang sangat perhatian denganku,ia selalu menemaniku, bagai manapun keadaan yang kulakukan.
Mulai hari itulah dunia terasa sudah tidak ada,ku melangkah namun ku tak merasakan apa-apa.
Aku hanya menangis terisak-isak di pangkuan seorang teman yang sangat pengertian akan kesedihan diriku.


Derita membutakan hatiku
Mencabik-cabik jiwaku
Merobek hasratku
Menghantui pintaku
Terima kasihku
Kepada teman yang setia menemaniku
Mahli Muhammad Ali

Sabtu, 24 November 2012

Keajaiban di Tanah Palestina

KISAH NYATA KEAJAIBAN-KEAJAIBAN DI JALUR GAZA.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

ISLAMEDIA - Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.


Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka “mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata kuno.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa “peristiwa aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnalis, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Berikut ini adalah rangkuman “kisah-kisah ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.

Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza ...

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya,

“Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?”

Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis.” Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.

Saksi Serdadu Israel ...

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang tentara Israel lainnya mengatakan,

“Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?

Apakah pasukan berbaju putih itu adalah MALAIKAT bantuan Allah, sebagaimana Allah telah membantu dalam perang Badar dalam Al-Qur’an?

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. 8 : 9)

Suara Tak Bersumber ...

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesuatu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan,

“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh ...

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa, “Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Merpati dan Anjing ...

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Seorang mujahid Palestina menuturkan “kisah aneh” lainnya kepada situs Filithin Al Aan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi “cerita keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Kabut pun Ikut Membantu ...

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu telah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com (sudah tidak bisa diakses lagi). la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Karena kekejaman zionis yahudi, semua makhluk Allah melawannya, Maha benar sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya:

Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, "Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon Yahudi." (HR Muslim dalam Shahih Jami' Ash-shaghir no. 7427)

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir.” (QS 8: 17-18)

Selamat Dengan Al-Qur’an ...

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengetahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf Al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al-Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid An-Nur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al-Qur’an tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah,

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,’ (Al-Baqarah [2]: 155-156).”

jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).

Harum Jasad Para Syuhada ...

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaimana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan,

“Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir ...

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal Al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) Al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000 ...

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza.

“Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.”

- Dari berbagai sumber -

***
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ...

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'share' dan undang teman-temanmu gabung dengan Page Islamedia

Rabu, 21 November 2012

Belajar Efektif




Belajar adalah sebuah tuntutan agama islam kepada pemeluknya, bukan hanya ingin mendapatkan sebuah title ataupun ijazah, dan yang terpenting adalah keinginan kita untuk mendapatkan keridhoan Allah.
Bagaimanakah belajar efektif itu..?
silahkan simak wawancara kami pada salah seorang doktor indonesia lulusan Al-Azhar Cairo Mesir, yang baru saja menyelesaikan s3nya di Al-Azhar

Apa yang memotivasi ust kok melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar, karena realita kita melihat, banyak dari mahasiswa Al-Azhar yang mengatakan Al-azhar itu sulit apalagi majisternya..?
Kalau kemampuan saya terus terang sangat pas-pasan, di bangdingkan dengan temen yang lain, saya masih di bawah mereka, contohnya saya itu waktu tamhidi, tamhidi saya termasuk lama padahal  waktu itu adalah tamhidi kesempatan terakhir, hampir mafsul, karena saya jauh dari teman-teman.
Di waktu itu saya tinggal di Qotamiyah, kemudian saya pindah ke helwan dengan tujuan di sana ada satu kawan namanya Badruddin, satu angkatan juga, belaiu juga sama-sama tamhidi satu dengan saya, saya pindah biar tamhidinya bareng, jadi dengan tinggalnya di Helwan ada temen untuk belajar bersama, saling menukar pikiran, saling simak menyimak pelajaran, semangat juga ada, dan saya mengakui kemampuan beliau itu lebih dari pada saya, ketika seminggu atau dua minggu sebelum ujian beliau mengambil keputusan untuk tidak ikut ujian, karena takut mafsul.
Kamudian saya bilang “nah ini dia kesempatan terakhir, walaupun saya mafsul nanti, di bilang oleh masyarakat indonesia ataupun mahasiswa Mesir saya mafsul, saya siap mental dan segalanya, karena menurut saya belajar adalah sebuah tuntutan agama islam kepada pemeluknya, dan yang terpenting adalah keinginan saya untuk mendapatkan keridhoan Allah”. Nah, itu sebagai pegangan kalau kita ingin belajar sukses.
Kita juga harus meluruskan niat, tanpa melihat komentas orang lain, mau dibilang mafsul, atau dikatain bodoh, atau di bilang nggak aktif di organisasi, yang terpenting kita ingin sukses di Al-Azhar, semata-mata bukan tujuan kita hanya untuk mendapatkan ijazah, atau supaya di pandang orang bagus, dan memang belajar merupakan sebuah kewajiban supaya sukses.
Kalau saya hanya mampu menyelasaikan s1nya di Al-Azhar, saya menganggap itu, sebuah pembelajaran yang tidak sempurna, dalam artian setengah-setengah, kemudian saya melanjutkan s2 dan s3 biar lebih matang,  itulah sebuah motivasi yang membuat membuat semangat saya melejit tinggi ke angkasa dalam istilahnya sehingga saya dengan tekat dan tak lupa shalat istikharah dan langsung melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar.
Ada juga teman saya orang jawa tengah, beliau mengkritik saya karena beliau melihat saya selalu gagal dalam ujian, kata beliau “ kenapa antum ngambil fiqih..? fiqih itu belum ada yang berhasil dari dulu” kemudian saya menjawab dengan pelan saja “ saya terus terang saja, saya masuk fiqih karena saya sudah istikhoroh, mantap, mantap niat, mantap kesiapan.”
Kemudian kawan itu tadi pulang ke indonesia, dan  Alhamdulillah sekali dengan kesempatan terakhir itu saya najah, Alhamdulillah sekali.
Sekarang antm sudah menyelesaikan program s3nya di Al-Azhar, ini adalah sebuah pretasi yang jarang sekali di raih oleh mahasiswa indonesia khususnya, apalagi di bidang fiqih  belum ada yang lulus dari dulu. Jadi, apa-apa aja cara atau metode yang telah antum lalui selama ini sehingga mampu menyelesaikan study di Al-Azhar dengan gelar doktor pula..?
Tentunya setiap tingkatan-tingkatan itu mempunyai metode dan cara yang berbeda meskipun ada kesamaan, tapi kesamaan itu juga tidal sepenuhnya, dalam artian kalau kita sedikit melihat  di tamhidi dan s1, keharusan bagi kita untuk mengulang, memahami, dan menghafal. Namun, s1 dengan tamhidi itu juga ada perbedaan cara, misalkan dalam menilainya, mungki kalau s1 terkadang ada tasamuh dari duktur-dukturnya, misalkan uslub tulisan kita salah itu masih dibenarkan dari para duktur, sedangkan di tamhidi, kalau kita salah dalam menuliskan uslub, itu tidak ada tasamuh, meskipun jawabannya secara umum udah betul, makanya kenapa orang-orang mengatakan Al-Azhar itu susah..? ya karena itu tadi, sebenarnya kembali kepada kita sendiri, apakah kita mampu memberikan jawaban yang benar dengan uslub yang benar.
Kalau s3 di Al-Azhar agak lumanyan mudah di bandingkan dengan di indonesia, karena klw di indonesia masih ada materi atau muhadarahnya, tp klw di Al-Azhar kita langsung nulis, makanya agak mudah, tapi yang lebih susahnya ngajuin judulnya itu, terkadang sekali kita ngajuin belum tentu di terima.
Dari itu semua pasti ada kendala yang harus kita jalani, jadi apa2 aja kendala2 selama ini yang antum hadap..? supaya bisa menjadi pelajaran bagi kita yang masih menempuh perjalanan panjang ini ust..?
Yang  namanya rintangan, kendala, hambatan, itu memang setiap orang mengalaminya, dan memang tak pernah hilang dari setiap orang, dan saya juga mengalami hal yang sama, dan pastinya rintangn seyiap  orang itu beragam-ragam dan berbeda-beda, tapi saya menjadikan rintangan itu sebagai kasih sayang dari Allah kepada saya.
Ada sebuah hambatan yang masih segar sekali dalam ingatan saya,pada suatu hari ada sebuah teman seorang cewek, anak kiyai, dia minta bimbingan kepada saya, akhirnya kami dekat dan semakin dekat, ya sedikit terganggu sih, tapi saya tetap konsentrasi dan akhirnya dia menjauhi saya dan sayapun menjauh, ternyata dalam perkembangan berikutnya dia malah udah punya pacar di Cairo, dia sering pacaran, ya klw bagi saya sih nggak jadi masalah, walaupun pertama sekali mengenal cewek, saya nilai tu sebuah cobaan saya, saya merasa biasa aja, dan ternyata dia udah menikah, Alhamdulillah nggak apa2, nggak ada rasa marah, benci dan lain sebaginhya.

Makanya dalam sholawat Yusriyah itu, saya sering ikut ngaji dengan syeh Yusri: bahwa setiap langkah kita, apapun yang kita alami, zhohiran wa batinan merupakan rahmat dari Allah, kasih sayang, mampukah kita mendalami dan merasakan rahmat itu, kalau ada orang sakit, sakit yang sangat parah, itu merupakan sebuah rahmat dari Allah, mungkin dia sering berbuat salah, bermaksiat dll, akhirnya Allah memberikan kepadanya sebuah rahmat untuk mengampuni dosa-dosanya itu, karena ketika sakit dia malah sering beristighfar, berzdikir, dan mengingat Allah.

Dengar2 antm sudah berusia 35 tahun dan masih lajang, kelihatannya ust lebih mengedepankan belajar dari pada study, kenapa antm lebih mengutamakan belajar dari pada nikah..? kan kebanyakan orang kepengen nikah dulu baru menyelesaikan studynya..?
Saya lahir tanggal 25 juni 1977, memang sebagian orang mengatakan nikah itu mendukung study, ada juga yang melihat bahwa nikah itu dalam artian bukan menghambat study tapi  akan memperlambat peruses pembelajaran itu, begitu juga dengan saya, kalau saya mendahulukan nikah, maka akan membutuhkan perosesnya lebih lama, akan nambah dua tahun lagi paling tidak, karena kalau sudah menikah pastinya akan memikirkan anak memikirkan istri dan lain sebagainya.
Terus tradisi orang juga kan berbeda-beda, ada orang yang udah biasa mengenal cewek dari indonesia, jadi ketika di cairo nggak bisa nggak kenal cewek, tapi kalau saya berbeda, memang udah dari SMA dulu nggak suka berbaur dengan cewek, bisa dikatakan fasif gitu, dan kebiasaan saya memang jauh dr cewek, makanya ketika di Cairo saya biasa-biasa aja, makanya saya membujang sampai s3nya.
Kalau ditelpon sama orang tua, itu selalu, di tanya kapan nikah lah, dulu ketika saya terakhir pulang ke indonesia waktu kepengurusan PNS, orang tua saya nyuruh nikah malahan beliau berkata “ nggak boleh pulang sebelum menikah” kemudian saya berhasil memahamkan orang tua dan keluarga “ kalau saya menikah sekarang pasti di Caironya akan membutuhkan studynya lebih lama paling nggak nambah dua tahun lagi, tapi kalau saya diizinkan membujang, fokus sekarang untuk kuliah, insya Allah dua tahun akan selesai.
Dan memang terbukti, terhitung dari bulan Syawwal tahun 2010 dan sekarang baru kita melalui syawwal 2012, terhitung dua tahun lebih sedikitlah. Alhamdulillah berkat do’a orang tua dan kerabat semuanya dijawab oleh Allah.

Kesan selama belajar di Mesir gimana ust, mungkin disana banyak pengalaman, atau kehidupan selama di Mesir..?
Sisi kehidupan mesir ini kan nggak teratur, sering ngantri, angkutan sering penuh, nggak ada rambu-rambu lalulintas, sering bentrok, ketika kepengurusan birokrasi sering mendapatkan bukroh, itu semua adalah salah satu pekerjaan yang mampu menimbulkan jenuh,bosan,bete bagi kita, apalagi kita-kita yang dari indonesia, tapi saya jadikan semua itu adalah sebuah nilai  upaya untuk menumbuhkan semangat, semangat untuk tidak pernah putus asa terutama dalam hal study.
Contohnya saja yang saya alami, di pasca sarjana, atau ketika tamhidi, karena sudah terbiasa ikhlas dengan kehidupan di Mesir, walaupun bukroh jalan terus, sehingga sesulit apapun yang kita alami, kita berusaha untuk ikhlas dan semangat.
Kenapa masih melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar, padahal di luar sanakan banyak universitas2 yang lebih lengkap dan lebih elit, seperti Jami’ah Qahiroh, atau di universitas2 yang ada di Erupa dan Amerika..?
Memang kata sebagian ilmuan di Indnesia harus seperti itu, dalam artian idealnya kalau setelah s1 dan s2 di Al-Azhar, minimal s3nya di Eropa gitu, dan memang terbukti metodelogi orang-orang yang tamatan dari eropa itu jauh lebih tinggi dari pada kita yang ada di Al-Azhar ini, lebih mapan di bandingkan dengan kita lulusan Al-Azhar, karena kan kita kalau di Al-Azhar hanya mengandalkan hafalan saja, tidak ada realitanya, makanya terkadang kita itu menjadi fasif.
Tapi ya itu, kuliah di jami’ah qohiroh, atau di Universitas-universitas di luar negeri sana seperti di Eropa, dan Amerika hanya sebuah angan-angan yang tidak mudah untukk dicapai, tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi di jami’ah Qohirah, yang terkenal dari  dulu itu mahal, memang tahun pertama aja terlalu mahal, setelah tahun ketiga nanti agak murah, meskipun demikian tetap tidak mudah, karena kita kan di Al-Azhar tidak bayar, mungkin lebih tepatnya dilihat dari segi ekonomi orang tua yang tidak memadai, sehingga hanya memilih di Al-Azhar saja.
 Yang terakhir, mungkin ada Pesan-pesan untuk mahasiswa kita yang masih duduk di strata s1 atau s2, sebagai motivasi gitu ust, mungkin sudah ada yang futur atau gmn gitu ust, mudah-mudahan dengan dengan membaca pesan-pesan dari  antm kita yang masih lama menempuh jalan di Al-Azhar ini bias mengambil pelajaran dari antm.
Kita harus belajar serius, fokus pada pelajaran yang telah ditetapkan di Kuliah, disamping belajar itu kita juga harus selalu memperbaharui niat, kemudian kita harus mempunyai semangat yang teguh, tanpa mengenal putus asa.
Satu hal yang mungkin yang ingin saya sampaikan mengapa belajar itu sebuah hikmah. Nah, di dalam kitab Al-Hikam itu dikatakan إدفن نفسك في الأرض الغمود... yang intinya tanamlah dirimu dalam-dalam di  tanah, karena suatu tumbuhan akan membawakan hasil kalau di tanam dalam-dalam, beda dengan tumbuhan yang di tanam asal-asalan, meskipun tumbuh ia sangat lemah mudah tumbang, meskipun berbuah tidak efektif. Nah, begitu juga dengan diri kita  semakin kita serius dalam belajar semakin kita tidak ingin dikenal banyak orang, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin mengenalkan diri , dikenal sebagai intlektual muda di masyarakat, punya semangat juang, selama kita belajar yang seperti itu kita tinggalkan dulu, karena itu sangat berpengaruh dengan hasil masa depan kita.
(Ilham,Khalid)