Derita Membutakan Hatiku
Malampun terus beranjak pergi berjalan menelusuri kota yang permai, menetupi kegilauan kota aceh pada saat itu. Semua santripun
bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah di masjid.
Seusai
melaksanakan shalat,semua santri berduyun-duyun sambil berlari-lari menuju dapur
umum untuk mendapatkan sepiring nasi guna menghilangkan rasa lapar yang telah mereka
tahan seharian penuh, dengan lahapnya mereka memakan santapan malam
itu,bagaikan singa yang tengah mencari mangsanya.
Tanpa
terasa,adzan isyapun telah berkumandang dan akhirnya mereka bergegas mencuci
piring-piring yang telah dikotori dengan makanan,dan meraka langsung menuju
masjid,shalat dan baca al-qur'an.
Namun di
kegembiraan banyaknya santri dan santriwati itu, aku duduk diantara mereka yang hanya diam membisu seribu
bahasa,tidak berbicara meski hanya sepatah kata.
Setelah
melaksanakan shalat isya, sesuai dengan rutinitas semua adalah belajar
individual di kelas masing-masing. Namun, ketika itu aku duduk termangu melihat
keindahan langit yang di hiasi oleh bintang gemintang mengeluarkan cahaya cinta
yang agung, mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah, sehingga siapapun yang
melihatnya pasti akan jatuh cinta.
Rasa
ingin tau dan penasaranpun datang menghampiri hatiku, ternyata tanpa kusadari
aku telah jatuh cinta kepada penduduk langit itu, ahkirnya aku mencoba untuk
mencari-cari perhatiannya, dan rasa keinginanpun untuk menghabiskan malam ini
bersama bintang itu kini kian menjadi-jadi.
Tapi
entah mengapa dipersimpangan malam yang penuh dengan keindahan, aku merasakan
ada yang tersakiti di bagian dalam tubuh mungilku, seakan-akan hatiku cemburu
melihat bintang bermesraan dengan bulan itu. Namun, aku bingun ketika ku
rasakan cemburu, kurasakan ada yang datang tiba-tiba dengan kebengisannya
langsung menusuk jantungku yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata dan tak
mampu jua kurasakan dengan panca indra.
Kenapa….??? Mengapa…??? Dari mana..???
Ada
apa…??? Pertanyaan itu datang bertubi-tubi
menghantui diri yang dha'if ini, aku bingun harus berbuat dan berkata apa. Ku
tundukan kepala ini memohon ampuanan Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.
Kucoba bertanya kepada rumput-rumput yang bergoyang dengan diiringi
tiupan angin lembut yang membawa kasih sayang serta cintanya kepada semua
makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini.
Namun apa
jawabnya, dia hanya diam membisu, dia tidak menghiraukanku, dia tak mengerti
perasaanku. Lalu ku kabarkan kepada gunung berdiri tegap, kokoh di hadapanku,yang
dihiasi tumbuh-tumbuhan dari pepohonan sampai rerumputan. Namun, dia tak jua
berkata apa-apa, dia hanya diam seribu bahasa, akhirnya tinggalah aku sendiri
terpaku menatap langit, dengan anggapan barangkali disana ada jawabannya.
Tak
kusadari ternyata malampun telah larut, jamkupun telah menunjukan pukul 00:00
dini hari, sekali lagi kupaksakan
meninta kepada robbii yang mengetahui rasa ini sambil kuteteskan air mata
kepiluan, akhirnya "ya sudah lah" ucapku dalam hati sambil kucoba melangkahkan
kaki ini menuju asrama tempat tidurku
meski dengan rasa bingung menyertaiku, tanpa pikir panjang ku langsung
mengambilkan selimut kesayanganku sambil ku ucapkan " Bismika Allahumma ahya wa
bismika amut" akupun langsung merebahkan badan dan memejamkan mata
dan langsung tidur.
Keesokan
harinya aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung ke kamar mandi, dengan
disertai rasa ngantuk kupaksakan mengulurkan tangan tuk mengambil setetes air
dan kupercikan kewajah ngantukku, seusai bewudhu' aku mengganti pakain shalat
dan langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh,tanpa merapikan
tempat tidur, biasanya setelah bangun aku langsung merapikan tempat tidur,
namun hari ini ada sedikit kejangkalan dalam diri ini.
Seusai melaksakan
shalat subuh, ku ambilkan sebuah al-qur'an utsmani dari dalam kantong bajuku, Kucoba
untuk membacanya. Namun aku tak bias serius, pikiranku buyar, lidah ini terasa
berat untuk mengungkapkan kata demi kata dari al-qur'an itu, bibir ini terasa
menolak untuk membacanya. Akhirnya kuhentikan bacaan sambil ku ucapkan "Astaghfirullah"
dengan nada menghambakan diri di hadapan Allah yang maha segala maha,sambil
kupejamkan mata dan kutundukan kepala memohon ampunan-Nya.
Aku tak
bisa berbuat apa-apa, hanya bingun yang menyertai diri ini. Shubuh yang
biasanya kulalui dengan lantunan al-qur'an kini hal itu lari menjauh dari
diriku, Akhirnya aku keluar dari masjid menuju kelas belajar. Angin pagipun
menghembus dengan keras menerpa wajah ini, rasa dinginpun kini menusuk tubuhku,
namun ketika hendak melangkahkan kaki
ini masuk kedalam kelas tiba-tiba saja kakiku terhenti sejenak ketika ku melihat
tempat ku berdiam diri tadi malam, seolah-olah ia menarik hati ini untuk
bersama lagi dengannya, tiba-tiba saja datang salah seorang teman mengujutkanku
sambil berteriak.
"Hoi…" katanya di telingaku, dengan sepontan aku
terkejut dan melompat sambil mengeluarkan sedikit jurus ular yang telah
kupelajari sebelumnya.
"Astaghfirullah" kataku panjang-panjang.
"antum
kenapa akhi..? ana liatin dari tadi malam antum asyik termenung aja, memang ada
masalah ya dengan antum..? certain dong ma ana mana tentu ana bisa bantu, meski
nggak sepenuhnya minimal ada lah pemberian dari ana, meski bukan berbentuk
meteri tenagapun jadi lah" tanyanya memprihatinkanku, dia adalah mahli
teman dekatku selama ini.
"Ana
nggak tau juga ni akhi, entah kenapa akhir-akhir ini ana teringat terus ma
orang tua di rumah, apalagi tadi malam ana hampir nggak bias tidur" jawabku.
"Antum
nggak usah terlalu terbuai dengan pikiran-pikiran yang mampu melalaikan belajar
antum, kita kesini kan di amanahkan untuk belajar" katanya
menasehatiku, ia tak mengerti perasaan ini, dan akupun tak mampu menjelaskan
kepadanya.
"
ya udah, ayo kita ke kamar,bentar lagi kita kan mau lari pagi keliling
pesantren ama temen-temen" ajaknya.
"ayo"
jawabku. Kamipun bergegas menuju kamar tempat tidur.
seusai
melaksanakan lari pagi, kami istirahat sejenak menghentikan letih dan penat.
Tiba Ibu
tukang masak dapur umum memanggil kami semua untuk mengambil bubur dan susu,
santapan sebelum sarapan pagi.
Seusai
makan dengan secara tiba-tiba, bumi menggoncangkan dirinya dengan keras
seakan-akan ia ingin merobohkan bangunan yang berdiri tinggi de depan dayahku,
di saat itu aku tak bisa bergerak apa-apa, karena aku adalah orang yang sukar
pusing kepala apabila gempa bumi
datang,akhirnya aku memaksa untuk meraih sebuah pohon di hadapanku, namun aku
tak kuasa, dengan sekejap temanku
"Astaghfirullah…"
kata mahli melihat diriku sudah tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam, rasanya
diri ini ingin lari sekencang-kencangnya, tapi aku tak mampu, seakan-akan ada
rantai besar yang mengikat kaki ini.
Akhirnya
goncanganpun berhenti,dengan tiba-tiba aku teringat dengan kebua orang tua dan
adik-adikku di rumah, aku bimbang, aku takut terjadi apa-apa sama mereka, rasa
kegalauanpun kian makin menjadi-jadi.
Kulalui
hari ini dengan rasa penasaran dan kebimbangan,memikirkan orang tua,saudara,handai
dan taulan di kampung halaman, rasanya aku ingin pulang kerumah, ingin
mengetahui pasti keadaan mereka,tapi tak diberi izin oleh ustadz untuk keluar
hari ini.
Akhirnya
bundaku menelpon salah seorang ustadz yang ada didayah tersebut, Alhamdulillah
kini hatiku mulai tenang.
"sekarang antum udah tenang kan..?" Tanya mahli secara
tiba-tiba.
"Alhamdulillah"
jawabku.
"ya
udah sekarang mari kita ke kamar"
"tapi
mengapa disisi lain hatiku masih tak puas dengan penjelasan bundaku ya
Li.?" Tanyaku.
"
udah nggak usah dipikirin lagi, yang terpenting sekarang adalah mereka
selamat,sehat-sehat saja, antum kan udah berbicara langsung dengan bunda
antum." Jawabnya.
"ya
Insya Allah, semoga tak ada terjadi apa-apa sama mereka" sambutku
pula, sambil berjalan menuju kamar.
Detikpun
terus berjalan menelusuri hari, menitpun tak mau kalah, jampun terus berjalan
berganti-ganti jam, beberapa hari setelah kejadian itu, terdengarlah sebuah
berita dari TV yang isinya.
"
Aceh menantikan uluran tangan kita semua untuk menyembuhkan lukanya".
lantas
secara langsung aku meneteskan air mata kesedihan, ku merasakan perih yang amat
dalam, melihat saudara-saudaraku dilanda banjir oleh tsunami, ku melihat ada
yang teriak menangis terngau-ngau mengadukan semuanya kepada Allah, ada pula
yang berteriak sambil melantunkan suara takbir " Allahu Akabar, la
ilaaha illallah" mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah.
Lantas
temanku mahli berkata " antum sudah lihat itu akhi,apa yang mereka
rasakan tak sebanding dengan apa yang antum rasakan saat ini, kenamakah mereka
akan mengadu kalau sudah seperti ini.? Tidak akhi, tidak apapun yang bisa
mereka lakukan." Katanya. Dia tak tau kalau kata-katanya itu membuat
hatiku semakin terluka.
Akhirnya
aku mencoba mencari-cari tempat yang bisa mengulurkan bantuan ke Banda Aceh dan
sekitarnya, sehingga ada seorang ustadz yang mengumumkan " siapa yang
mau memberikan bantuan silahkan masuk ke kelas masing-masing” akupun
langsung menuju kelas dengan membawa beberapa pakaian kesayangan yang kumiliki
dan langsung memberikannya kepada ustadz tersebut.
Tabi-tiba
si Mahli datang menghampiriku dan berkata.
"Akhi
Ham" itulah panggilan akrabku selama didayah modern ini.
"apa..?"
tanyaku
"
ana ada perlu sedikit sama antum ini, ini sangat penting sekali" aku
mulai penasaran melihat wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang memang harus aku
ketahui, dia membawa dan menariku masuk ke dalam kamar.
"
antum jangan panik dulu ya, insya Allah ana dan seluruh orang yang ada di Dayah
ini akan selalu bersama antum disini, ingat kita kemari untuk belajar bukan
apa-apa." Katanya memulai pembicaraan.
Lantas
aku menjawab " ya aku tau hal itu, katakan saja apa yang ingin antum
katakan" tiba-tiba dia memelukku sambil mengeluarkan air mata,akupun
mulai heran dan bertanya-tanya
" antum
kenapa akhi…?" nada lembutku
membujuk hatinya.
"
antum jangan sedih ya, aku nggak mau antum nanti terbebani, ana barusan dapat
Sms lewat Hp ustadz Harun " kemudian dia diam sejenak, karena tak
sabar dan penasaranpun menjadi-jadi, ku bertanya kepadanya.
" apa
isi smsnya akhi..?" dia hanya menangis, rasanya ia tak sanggup menahan
perih tersebut. Dengan berat lidah ia berusaha memberitahuku.
"
tadi ustadz dapat sms dari kampong antum, mereka mengabarkan bahwa ayah antum
telah tiada" aku mulai tak mendengar perkataannya.
"antum
yang sabar ya akhi, ma'afkan aku memberitahunya secara tiba-tiba" tapi
aku tak lagi mendengar perkataanya. Aku langsung tak sadarkan diri,air mataku
terus-menerus mengalir bagaikan air.
Namun
mahli sebagai teman yang sangat perhatian denganku,ia selalu menemaniku, bagai
manapun keadaan yang kulakukan.
Mulai
hari itulah dunia terasa sudah tidak ada,ku melangkah namun ku tak merasakan
apa-apa.
Aku hanya
menangis terisak-isak di pangkuan seorang teman yang sangat pengertian akan kesedihan
diriku.
Derita membutakan hatiku
Mencabik-cabik jiwaku
Merobek hasratku
Menghantui pintaku
Terima kasihku
Kepada teman yang setia menemaniku
Mahli Muhammad Ali
