Rabu, 28 November 2012

Derita Membutakan Hatiku


Derita Membutakan Hatiku


Malampun terus beranjak pergi berjalan menelusuri kota yang permai, menetupi kegilauan kota aceh pada saat itu. Semua santripun bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah di masjid.
Seusai melaksanakan shalat,semua santri berduyun-duyun sambil berlari-lari menuju dapur umum untuk mendapatkan sepiring nasi guna menghilangkan rasa lapar yang telah mereka tahan seharian penuh, dengan lahapnya mereka memakan santapan malam itu,bagaikan singa yang tengah mencari mangsanya.
Tanpa terasa,adzan isyapun telah berkumandang dan akhirnya mereka bergegas mencuci piring-piring yang telah dikotori dengan makanan,dan meraka langsung menuju masjid,shalat dan baca al-qur'an.
Namun di kegembiraan banyaknya santri dan santriwati itu, aku duduk  diantara mereka yang hanya diam membisu seribu bahasa,tidak berbicara meski hanya sepatah kata.
Setelah melaksanakan shalat isya, sesuai dengan rutinitas semua adalah belajar individual di kelas masing-masing. Namun, ketika itu aku duduk termangu melihat keindahan langit yang di hiasi oleh bintang gemintang mengeluarkan cahaya cinta yang agung, mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah, sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.
Rasa ingin tau dan penasaranpun datang menghampiri hatiku, ternyata tanpa kusadari aku telah jatuh cinta kepada penduduk langit itu, ahkirnya aku mencoba untuk mencari-cari perhatiannya, dan rasa keinginanpun untuk menghabiskan malam ini bersama bintang itu kini kian menjadi-jadi.
Tapi entah mengapa dipersimpangan malam yang penuh dengan keindahan, aku merasakan ada yang tersakiti di bagian dalam tubuh mungilku, seakan-akan hatiku cemburu melihat bintang bermesraan dengan bulan itu. Namun, aku bingun ketika ku rasakan cemburu, kurasakan ada yang datang tiba-tiba dengan kebengisannya langsung menusuk jantungku yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata dan tak mampu jua kurasakan dengan panca indra.
Kenapa….???  Mengapa…???  Dari mana..???
Ada apa…???  Pertanyaan itu datang bertubi-tubi menghantui diri yang dha'if ini, aku bingun harus berbuat dan berkata apa. Ku tundukan kepala ini memohon ampuanan  Allah yang maha mengetahui segala sesuatu.
Kucoba bertanya kepada rumput-rumput yang bergoyang dengan diiringi tiupan angin lembut yang membawa kasih sayang serta cintanya kepada semua makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini.
Namun apa jawabnya, dia hanya diam membisu, dia tidak menghiraukanku, dia tak mengerti perasaanku. Lalu ku kabarkan kepada gunung berdiri tegap, kokoh di hadapanku,yang dihiasi tumbuh-tumbuhan dari pepohonan sampai rerumputan. Namun, dia tak jua berkata apa-apa, dia hanya diam seribu bahasa, akhirnya tinggalah aku sendiri terpaku menatap langit, dengan anggapan barangkali disana ada jawabannya.
Tak kusadari ternyata malampun telah larut, jamkupun telah menunjukan pukul 00:00 dini hari,  sekali lagi kupaksakan meninta kepada robbii yang mengetahui rasa ini sambil kuteteskan air mata kepiluan, akhirnya "ya sudah lah"  ucapku dalam hati sambil kucoba melangkahkan kaki ini menuju asrama tempat tidurku  meski dengan rasa bingung menyertaiku, tanpa pikir panjang ku langsung mengambilkan selimut kesayanganku sambil ku ucapkan " Bismika Allahumma ahya wa bismika amut"  akupun langsung merebahkan badan dan memejamkan mata dan langsung tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung ke kamar mandi, dengan disertai rasa ngantuk kupaksakan mengulurkan tangan tuk mengambil setetes air dan kupercikan kewajah ngantukku, seusai bewudhu' aku mengganti pakain shalat dan langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh,tanpa merapikan tempat tidur, biasanya setelah bangun aku langsung merapikan tempat tidur, namun hari ini ada sedikit kejangkalan dalam diri ini.
Seusai melaksakan shalat subuh, ku ambilkan sebuah al-qur'an utsmani dari dalam kantong bajuku, Kucoba untuk membacanya. Namun aku tak bias serius, pikiranku buyar, lidah ini terasa berat untuk mengungkapkan kata demi kata dari al-qur'an itu, bibir ini terasa menolak untuk membacanya. Akhirnya kuhentikan bacaan sambil ku ucapkan "Astaghfirullah" dengan nada menghambakan diri di hadapan Allah yang maha segala maha,sambil kupejamkan mata dan kutundukan kepala memohon ampunan-Nya.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bingun yang menyertai diri ini. Shubuh yang biasanya kulalui dengan lantunan al-qur'an kini hal itu lari menjauh dari diriku, Akhirnya aku keluar dari masjid menuju kelas belajar. Angin pagipun menghembus dengan keras menerpa wajah ini, rasa dinginpun kini menusuk tubuhku, namun  ketika hendak melangkahkan kaki ini masuk kedalam kelas tiba-tiba saja kakiku terhenti sejenak ketika ku melihat tempat ku berdiam diri tadi malam, seolah-olah ia menarik hati ini untuk bersama lagi dengannya, tiba-tiba saja datang salah seorang teman mengujutkanku sambil berteriak.
"Hoi…" katanya di telingaku, dengan sepontan aku terkejut dan melompat sambil mengeluarkan sedikit jurus ular yang telah kupelajari sebelumnya.
"Astaghfirullah" kataku panjang-panjang.
"antum kenapa akhi..? ana liatin dari tadi malam antum asyik termenung aja, memang ada masalah ya dengan antum..? certain dong ma ana mana tentu ana bisa bantu, meski nggak sepenuhnya minimal ada lah pemberian dari ana, meski bukan berbentuk meteri tenagapun jadi lah" tanyanya memprihatinkanku, dia adalah mahli teman dekatku selama ini.
"Ana nggak tau juga ni akhi, entah kenapa akhir-akhir ini ana teringat terus ma orang tua di rumah, apalagi tadi malam ana hampir nggak bias tidur" jawabku.
"Antum nggak usah terlalu terbuai dengan pikiran-pikiran yang mampu melalaikan belajar antum, kita kesini kan di amanahkan untuk belajar" katanya menasehatiku, ia tak mengerti perasaan ini, dan akupun tak mampu menjelaskan kepadanya.
" ya udah, ayo kita ke kamar,bentar lagi kita kan mau lari pagi keliling pesantren ama temen-temen" ajaknya.
"ayo" jawabku. Kamipun bergegas menuju kamar tempat tidur.
seusai melaksanakan lari pagi, kami istirahat sejenak menghentikan letih dan penat.
Tiba Ibu tukang masak dapur umum memanggil kami semua untuk mengambil bubur dan susu, santapan sebelum sarapan pagi.
Seusai makan dengan secara tiba-tiba, bumi menggoncangkan dirinya dengan keras seakan-akan ia ingin merobohkan bangunan yang berdiri tinggi de depan dayahku, di saat itu aku tak bisa bergerak apa-apa, karena aku adalah orang yang sukar pusing  kepala apabila gempa bumi datang,akhirnya aku memaksa untuk meraih sebuah pohon di hadapanku, namun aku tak kuasa, dengan sekejap temanku
"Astaghfirullah…" kata mahli melihat diriku sudah tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam, rasanya diri ini ingin lari sekencang-kencangnya, tapi aku tak mampu, seakan-akan ada rantai besar yang mengikat kaki ini.
Akhirnya goncanganpun berhenti,dengan tiba-tiba aku teringat dengan kebua orang tua dan adik-adikku di rumah, aku bimbang, aku takut terjadi apa-apa sama mereka, rasa kegalauanpun kian makin menjadi-jadi.
Kulalui hari ini dengan rasa penasaran dan kebimbangan,memikirkan orang tua,saudara,handai dan taulan di kampung halaman, rasanya aku ingin pulang kerumah, ingin mengetahui pasti keadaan mereka,tapi tak diberi izin oleh ustadz untuk keluar hari ini.
Akhirnya bundaku menelpon salah seorang ustadz yang ada didayah tersebut, Alhamdulillah kini hatiku mulai tenang.
"sekarang antum udah tenang kan..?" Tanya mahli secara tiba-tiba.
"Alhamdulillah" jawabku.
"ya udah sekarang mari kita ke kamar"
"tapi mengapa disisi lain hatiku masih tak puas dengan penjelasan bundaku ya Li.?" Tanyaku.
" udah nggak usah dipikirin lagi, yang terpenting sekarang adalah mereka selamat,sehat-sehat saja, antum kan udah berbicara langsung dengan bunda antum." Jawabnya.
"ya Insya Allah, semoga tak ada terjadi apa-apa sama mereka" sambutku pula, sambil berjalan menuju kamar.
Detikpun terus berjalan menelusuri hari, menitpun tak mau kalah, jampun terus berjalan berganti-ganti jam, beberapa hari setelah kejadian itu, terdengarlah sebuah berita dari TV yang isinya.
" Aceh menantikan uluran tangan kita semua untuk menyembuhkan lukanya".
lantas secara langsung aku meneteskan air mata kesedihan, ku merasakan perih yang amat dalam, melihat saudara-saudaraku dilanda banjir oleh tsunami, ku melihat ada yang teriak menangis terngau-ngau mengadukan semuanya kepada Allah, ada pula yang berteriak sambil melantunkan suara takbir " Allahu Akabar, la ilaaha illallah" mengagungkan Asma' dan kebesaran Allah.
Lantas temanku mahli berkata " antum sudah lihat itu akhi,apa yang mereka rasakan tak sebanding dengan apa yang antum rasakan saat ini, kenamakah mereka akan mengadu kalau sudah seperti ini.? Tidak akhi, tidak apapun yang bisa mereka lakukan." Katanya. Dia tak tau kalau kata-katanya itu membuat hatiku semakin terluka.
Akhirnya aku mencoba mencari-cari tempat yang bisa mengulurkan bantuan ke Banda Aceh dan sekitarnya, sehingga ada seorang ustadz yang mengumumkan " siapa yang mau memberikan bantuan silahkan masuk ke kelas masing-masing” akupun langsung menuju kelas dengan membawa beberapa pakaian kesayangan yang kumiliki dan langsung memberikannya kepada ustadz tersebut.
Tabi-tiba si Mahli datang menghampiriku dan berkata.
"Akhi Ham" itulah panggilan akrabku selama didayah modern ini.
"apa..?" tanyaku
" ana ada perlu sedikit sama antum ini, ini sangat penting sekali" aku mulai penasaran melihat wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang memang harus aku ketahui, dia membawa dan menariku masuk ke dalam kamar.
" antum jangan panik dulu ya, insya Allah ana dan seluruh orang yang ada di Dayah ini akan selalu bersama antum disini, ingat kita kemari untuk belajar bukan apa-apa." Katanya memulai pembicaraan.
Lantas aku menjawab " ya aku tau hal itu, katakan saja apa yang ingin antum katakan" tiba-tiba dia memelukku sambil mengeluarkan air mata,akupun mulai heran dan bertanya-tanya
" antum kenapa akhi…?"  nada lembutku membujuk hatinya.
" antum jangan sedih ya, aku nggak mau antum nanti terbebani, ana barusan dapat Sms lewat Hp ustadz Harun " kemudian dia diam sejenak, karena tak sabar dan penasaranpun menjadi-jadi, ku bertanya kepadanya.
" apa isi smsnya akhi..?" dia hanya menangis, rasanya ia tak sanggup menahan perih tersebut. Dengan berat lidah ia berusaha memberitahuku.
" tadi ustadz dapat sms dari kampong antum, mereka mengabarkan bahwa ayah antum telah tiada" aku mulai tak mendengar perkataannya.
"antum yang sabar ya akhi, ma'afkan aku memberitahunya secara tiba-tiba" tapi aku tak lagi mendengar perkataanya. Aku langsung tak sadarkan diri,air mataku terus-menerus mengalir bagaikan air.
Namun mahli sebagai teman yang sangat perhatian denganku,ia selalu menemaniku, bagai manapun keadaan yang kulakukan.
Mulai hari itulah dunia terasa sudah tidak ada,ku melangkah namun ku tak merasakan apa-apa.
Aku hanya menangis terisak-isak di pangkuan seorang teman yang sangat pengertian akan kesedihan diriku.


Derita membutakan hatiku
Mencabik-cabik jiwaku
Merobek hasratku
Menghantui pintaku
Terima kasihku
Kepada teman yang setia menemaniku
Mahli Muhammad Ali

Tidak ada komentar: