Rabu, 21 November 2012

Belajar Efektif




Belajar adalah sebuah tuntutan agama islam kepada pemeluknya, bukan hanya ingin mendapatkan sebuah title ataupun ijazah, dan yang terpenting adalah keinginan kita untuk mendapatkan keridhoan Allah.
Bagaimanakah belajar efektif itu..?
silahkan simak wawancara kami pada salah seorang doktor indonesia lulusan Al-Azhar Cairo Mesir, yang baru saja menyelesaikan s3nya di Al-Azhar

Apa yang memotivasi ust kok melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar, karena realita kita melihat, banyak dari mahasiswa Al-Azhar yang mengatakan Al-azhar itu sulit apalagi majisternya..?
Kalau kemampuan saya terus terang sangat pas-pasan, di bangdingkan dengan temen yang lain, saya masih di bawah mereka, contohnya saya itu waktu tamhidi, tamhidi saya termasuk lama padahal  waktu itu adalah tamhidi kesempatan terakhir, hampir mafsul, karena saya jauh dari teman-teman.
Di waktu itu saya tinggal di Qotamiyah, kemudian saya pindah ke helwan dengan tujuan di sana ada satu kawan namanya Badruddin, satu angkatan juga, belaiu juga sama-sama tamhidi satu dengan saya, saya pindah biar tamhidinya bareng, jadi dengan tinggalnya di Helwan ada temen untuk belajar bersama, saling menukar pikiran, saling simak menyimak pelajaran, semangat juga ada, dan saya mengakui kemampuan beliau itu lebih dari pada saya, ketika seminggu atau dua minggu sebelum ujian beliau mengambil keputusan untuk tidak ikut ujian, karena takut mafsul.
Kamudian saya bilang “nah ini dia kesempatan terakhir, walaupun saya mafsul nanti, di bilang oleh masyarakat indonesia ataupun mahasiswa Mesir saya mafsul, saya siap mental dan segalanya, karena menurut saya belajar adalah sebuah tuntutan agama islam kepada pemeluknya, dan yang terpenting adalah keinginan saya untuk mendapatkan keridhoan Allah”. Nah, itu sebagai pegangan kalau kita ingin belajar sukses.
Kita juga harus meluruskan niat, tanpa melihat komentas orang lain, mau dibilang mafsul, atau dikatain bodoh, atau di bilang nggak aktif di organisasi, yang terpenting kita ingin sukses di Al-Azhar, semata-mata bukan tujuan kita hanya untuk mendapatkan ijazah, atau supaya di pandang orang bagus, dan memang belajar merupakan sebuah kewajiban supaya sukses.
Kalau saya hanya mampu menyelasaikan s1nya di Al-Azhar, saya menganggap itu, sebuah pembelajaran yang tidak sempurna, dalam artian setengah-setengah, kemudian saya melanjutkan s2 dan s3 biar lebih matang,  itulah sebuah motivasi yang membuat membuat semangat saya melejit tinggi ke angkasa dalam istilahnya sehingga saya dengan tekat dan tak lupa shalat istikharah dan langsung melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar.
Ada juga teman saya orang jawa tengah, beliau mengkritik saya karena beliau melihat saya selalu gagal dalam ujian, kata beliau “ kenapa antum ngambil fiqih..? fiqih itu belum ada yang berhasil dari dulu” kemudian saya menjawab dengan pelan saja “ saya terus terang saja, saya masuk fiqih karena saya sudah istikhoroh, mantap, mantap niat, mantap kesiapan.”
Kemudian kawan itu tadi pulang ke indonesia, dan  Alhamdulillah sekali dengan kesempatan terakhir itu saya najah, Alhamdulillah sekali.
Sekarang antm sudah menyelesaikan program s3nya di Al-Azhar, ini adalah sebuah pretasi yang jarang sekali di raih oleh mahasiswa indonesia khususnya, apalagi di bidang fiqih  belum ada yang lulus dari dulu. Jadi, apa-apa aja cara atau metode yang telah antum lalui selama ini sehingga mampu menyelesaikan study di Al-Azhar dengan gelar doktor pula..?
Tentunya setiap tingkatan-tingkatan itu mempunyai metode dan cara yang berbeda meskipun ada kesamaan, tapi kesamaan itu juga tidal sepenuhnya, dalam artian kalau kita sedikit melihat  di tamhidi dan s1, keharusan bagi kita untuk mengulang, memahami, dan menghafal. Namun, s1 dengan tamhidi itu juga ada perbedaan cara, misalkan dalam menilainya, mungki kalau s1 terkadang ada tasamuh dari duktur-dukturnya, misalkan uslub tulisan kita salah itu masih dibenarkan dari para duktur, sedangkan di tamhidi, kalau kita salah dalam menuliskan uslub, itu tidak ada tasamuh, meskipun jawabannya secara umum udah betul, makanya kenapa orang-orang mengatakan Al-Azhar itu susah..? ya karena itu tadi, sebenarnya kembali kepada kita sendiri, apakah kita mampu memberikan jawaban yang benar dengan uslub yang benar.
Kalau s3 di Al-Azhar agak lumanyan mudah di bandingkan dengan di indonesia, karena klw di indonesia masih ada materi atau muhadarahnya, tp klw di Al-Azhar kita langsung nulis, makanya agak mudah, tapi yang lebih susahnya ngajuin judulnya itu, terkadang sekali kita ngajuin belum tentu di terima.
Dari itu semua pasti ada kendala yang harus kita jalani, jadi apa2 aja kendala2 selama ini yang antum hadap..? supaya bisa menjadi pelajaran bagi kita yang masih menempuh perjalanan panjang ini ust..?
Yang  namanya rintangan, kendala, hambatan, itu memang setiap orang mengalaminya, dan memang tak pernah hilang dari setiap orang, dan saya juga mengalami hal yang sama, dan pastinya rintangn seyiap  orang itu beragam-ragam dan berbeda-beda, tapi saya menjadikan rintangan itu sebagai kasih sayang dari Allah kepada saya.
Ada sebuah hambatan yang masih segar sekali dalam ingatan saya,pada suatu hari ada sebuah teman seorang cewek, anak kiyai, dia minta bimbingan kepada saya, akhirnya kami dekat dan semakin dekat, ya sedikit terganggu sih, tapi saya tetap konsentrasi dan akhirnya dia menjauhi saya dan sayapun menjauh, ternyata dalam perkembangan berikutnya dia malah udah punya pacar di Cairo, dia sering pacaran, ya klw bagi saya sih nggak jadi masalah, walaupun pertama sekali mengenal cewek, saya nilai tu sebuah cobaan saya, saya merasa biasa aja, dan ternyata dia udah menikah, Alhamdulillah nggak apa2, nggak ada rasa marah, benci dan lain sebaginhya.

Makanya dalam sholawat Yusriyah itu, saya sering ikut ngaji dengan syeh Yusri: bahwa setiap langkah kita, apapun yang kita alami, zhohiran wa batinan merupakan rahmat dari Allah, kasih sayang, mampukah kita mendalami dan merasakan rahmat itu, kalau ada orang sakit, sakit yang sangat parah, itu merupakan sebuah rahmat dari Allah, mungkin dia sering berbuat salah, bermaksiat dll, akhirnya Allah memberikan kepadanya sebuah rahmat untuk mengampuni dosa-dosanya itu, karena ketika sakit dia malah sering beristighfar, berzdikir, dan mengingat Allah.

Dengar2 antm sudah berusia 35 tahun dan masih lajang, kelihatannya ust lebih mengedepankan belajar dari pada study, kenapa antm lebih mengutamakan belajar dari pada nikah..? kan kebanyakan orang kepengen nikah dulu baru menyelesaikan studynya..?
Saya lahir tanggal 25 juni 1977, memang sebagian orang mengatakan nikah itu mendukung study, ada juga yang melihat bahwa nikah itu dalam artian bukan menghambat study tapi  akan memperlambat peruses pembelajaran itu, begitu juga dengan saya, kalau saya mendahulukan nikah, maka akan membutuhkan perosesnya lebih lama, akan nambah dua tahun lagi paling tidak, karena kalau sudah menikah pastinya akan memikirkan anak memikirkan istri dan lain sebagainya.
Terus tradisi orang juga kan berbeda-beda, ada orang yang udah biasa mengenal cewek dari indonesia, jadi ketika di cairo nggak bisa nggak kenal cewek, tapi kalau saya berbeda, memang udah dari SMA dulu nggak suka berbaur dengan cewek, bisa dikatakan fasif gitu, dan kebiasaan saya memang jauh dr cewek, makanya ketika di Cairo saya biasa-biasa aja, makanya saya membujang sampai s3nya.
Kalau ditelpon sama orang tua, itu selalu, di tanya kapan nikah lah, dulu ketika saya terakhir pulang ke indonesia waktu kepengurusan PNS, orang tua saya nyuruh nikah malahan beliau berkata “ nggak boleh pulang sebelum menikah” kemudian saya berhasil memahamkan orang tua dan keluarga “ kalau saya menikah sekarang pasti di Caironya akan membutuhkan studynya lebih lama paling nggak nambah dua tahun lagi, tapi kalau saya diizinkan membujang, fokus sekarang untuk kuliah, insya Allah dua tahun akan selesai.
Dan memang terbukti, terhitung dari bulan Syawwal tahun 2010 dan sekarang baru kita melalui syawwal 2012, terhitung dua tahun lebih sedikitlah. Alhamdulillah berkat do’a orang tua dan kerabat semuanya dijawab oleh Allah.

Kesan selama belajar di Mesir gimana ust, mungkin disana banyak pengalaman, atau kehidupan selama di Mesir..?
Sisi kehidupan mesir ini kan nggak teratur, sering ngantri, angkutan sering penuh, nggak ada rambu-rambu lalulintas, sering bentrok, ketika kepengurusan birokrasi sering mendapatkan bukroh, itu semua adalah salah satu pekerjaan yang mampu menimbulkan jenuh,bosan,bete bagi kita, apalagi kita-kita yang dari indonesia, tapi saya jadikan semua itu adalah sebuah nilai  upaya untuk menumbuhkan semangat, semangat untuk tidak pernah putus asa terutama dalam hal study.
Contohnya saja yang saya alami, di pasca sarjana, atau ketika tamhidi, karena sudah terbiasa ikhlas dengan kehidupan di Mesir, walaupun bukroh jalan terus, sehingga sesulit apapun yang kita alami, kita berusaha untuk ikhlas dan semangat.
Kenapa masih melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar, padahal di luar sanakan banyak universitas2 yang lebih lengkap dan lebih elit, seperti Jami’ah Qahiroh, atau di universitas2 yang ada di Erupa dan Amerika..?
Memang kata sebagian ilmuan di Indnesia harus seperti itu, dalam artian idealnya kalau setelah s1 dan s2 di Al-Azhar, minimal s3nya di Eropa gitu, dan memang terbukti metodelogi orang-orang yang tamatan dari eropa itu jauh lebih tinggi dari pada kita yang ada di Al-Azhar ini, lebih mapan di bandingkan dengan kita lulusan Al-Azhar, karena kan kita kalau di Al-Azhar hanya mengandalkan hafalan saja, tidak ada realitanya, makanya terkadang kita itu menjadi fasif.
Tapi ya itu, kuliah di jami’ah qohiroh, atau di Universitas-universitas di luar negeri sana seperti di Eropa, dan Amerika hanya sebuah angan-angan yang tidak mudah untukk dicapai, tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi di jami’ah Qohirah, yang terkenal dari  dulu itu mahal, memang tahun pertama aja terlalu mahal, setelah tahun ketiga nanti agak murah, meskipun demikian tetap tidak mudah, karena kita kan di Al-Azhar tidak bayar, mungkin lebih tepatnya dilihat dari segi ekonomi orang tua yang tidak memadai, sehingga hanya memilih di Al-Azhar saja.
 Yang terakhir, mungkin ada Pesan-pesan untuk mahasiswa kita yang masih duduk di strata s1 atau s2, sebagai motivasi gitu ust, mungkin sudah ada yang futur atau gmn gitu ust, mudah-mudahan dengan dengan membaca pesan-pesan dari  antm kita yang masih lama menempuh jalan di Al-Azhar ini bias mengambil pelajaran dari antm.
Kita harus belajar serius, fokus pada pelajaran yang telah ditetapkan di Kuliah, disamping belajar itu kita juga harus selalu memperbaharui niat, kemudian kita harus mempunyai semangat yang teguh, tanpa mengenal putus asa.
Satu hal yang mungkin yang ingin saya sampaikan mengapa belajar itu sebuah hikmah. Nah, di dalam kitab Al-Hikam itu dikatakan إدفن نفسك في الأرض الغمود... yang intinya tanamlah dirimu dalam-dalam di  tanah, karena suatu tumbuhan akan membawakan hasil kalau di tanam dalam-dalam, beda dengan tumbuhan yang di tanam asal-asalan, meskipun tumbuh ia sangat lemah mudah tumbang, meskipun berbuah tidak efektif. Nah, begitu juga dengan diri kita  semakin kita serius dalam belajar semakin kita tidak ingin dikenal banyak orang, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin mengenalkan diri , dikenal sebagai intlektual muda di masyarakat, punya semangat juang, selama kita belajar yang seperti itu kita tinggalkan dulu, karena itu sangat berpengaruh dengan hasil masa depan kita.
(Ilham,Khalid)

Kesejukan di balik gersangnya Mesir..




Mesir-adalah sebuah negara yang hampir setengah wilayahnya di tutupi hamparan padang pasir gersang dan tandus, sebuah negara yang penduduknya memilih untuk tinggal di tapian sungai nil ataupun dengan mengalirkan sungai nil ke desa-desa mereka.
Namun, negara ini mempunyai beberapa keunikan yang sangat luar biasa dan menarik perhatian bila di kaji secara seksama serta kita tidak menyangka bahwa hal tersebut ada di negara Mesir yang tandus  ini.
Selain sejarah-sejarah dan peninggalan-peninggalan besar zaman kuno yang sangat terpopuler di belahan bumi manapun seperti Piramida yang telah di bangun ribuan tahun sebelum masehi oleh kerajaan Fir'aun  juga tempat-tempat wisata yang sangat memuaskan hati, baik itu lautan ataupun tempat peribadatan.
Selain keunikan di atas ternyata masih ada keunikan-keunikan yang lain, seperti minuman jus ala Mesir.
Jus adalah nama minuman yang sangat kita kenal dan memang tak asing lagi di telinga setiap insan siapapun dia bahkan kita juga sering membuat minuman yang bernama jus ini atau kalau lagi malas untuk membuatnya biasanya jalan alternatif adalah membelinya di toko-toko yang menjual minuman tersebut.
Nah mesir ini adalah sebuah negara yang banyak sekali memproduksi jus, lantaran masyarakatnya maniak terhadap minuman jus, salah satunya adalah jus mangga yang kita kenal dan banyak lagi macam-macam jus yang di produksi negara ini di antaranya adalah jus tebu, jus tamar hindi, shobia, jeruk dan lain-lain.
Namun, disini ada keunikan dalam cara membuatnya, sekilas kalau kita melihat negara-negara yang berada di belahan Asia seperti indonesia, malaisya, thailand, dan beberapa negara lainnya kebanyakan memproduksi jus dengan alat bantu seperti mesin misalnya atau menggunakan zat kimiawi sebagai bahan penyedap dan membuatnya dalam bentuk saset.
Jarang sekali kita menjumpai toko yang menjual minuman jus ini di buat secara alami, meskipun ada mungkin hanya di café-café atau di toko-toko tertentu saja, dengan harga yang lumanyan mahal.
Sementara kalau kita melirik sedikit ke negara Mesir pembuatannya yang  secara alamiah, tanpa menggunakan bahan-bahan bantu cukup dengan satu alat yaitu belender, dan tidak menambahkan zat kimia ke dalam minuman tersebut sebagai penyedap rasa, sehingga menyegarkan dan memuaskan bagi para peminumnya dengan rasa yang alami.
 Serta penjualannyapun sangat terbuka dan tidak terbatas, bukan hanya di toko-toko atau di café-café tertentu saja.
Ia bisa kita temui di tepian-tepian jalan mesir, ada yang menyediakan kursi-kursi banyak sehingga bisa digunakan tempat mengobrol sambil meminum jus tersebut, dan ada juga yang hanya menjualnya tanpa menggunakan kursi, toko ini biasanya menyediakan kantong pelastik untuk di bungkus ke rumah bagi siapa yang tidak mau meminum di toko tersebut.
 Selain harganya yang sangat murah juga sangat memuaskan, sehingga musim panas yang begitu menyelengat tubuh terasa tenang, dan dahagapun akan hilang seketika.






Nama: Ilham Sujefri
Kuliah: Al-azhar universyty
Fakultas: Ushuluddin tingkat II

Surat Cinta Untuk Buah Hati



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Anakku yang ku sayangi engkau adalah harapan hati, engkaulah yang akan membawa risalah ini, engkaulah yang paling mengerti, engkaulah yang akan mewarisi isi hati yang telah kutanam hingga kini, supaya engkau mampu memetiknya tatkala ibu sudah tiada lagi.
Anakku yang kusayangi, ibu masih teringat-ingat dengan perkataanmu ketika engkau berusia 5 tahun " mama aku mencintaimu ma, aku akan berusaha menjadi yang terbaik disisimu ma,aku akan berusaha mewujudkan semua pintamu ma" ibu menjawab anakku " Mama juga mencintaimu anakku, mama juga akan selalau berdo'a kepada Allah supaya engkau bisa menjadi orang yang sukses di kala tua, mama akan selalau menyanyangimu anakku" ibu diwaktu itu menangis mengingat-ingat kata-kata darimu anakku, ibu di malam itu tidak bisa tidur untukmu anakku, kini engkau telah tumbuh besar.
 Ibu juga teringat dengan perkataanmu dulu " ma aku ingin sekolah ke luar negri,ke Amerika, Inggris, Mesir ma" ibupun menjawab anakku " kalau kamu mau sekolah ke luar negri kamu harus menjadi anak yang pandai, penter, cerdas, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya kamu bisa mendapatkan beasiswa ke luar negri ya anakku" lantas dengan sepontan engkau menjawab " mama aku akan belajar sungguh-sungguh ma, aku pasti akan sekolah di luar negri ma".
Kini engkau sudah tiada disisiku lagi engkau telah pergi jauh meninggalkan ibu sendiri tatkala malam menjelang, kini engkau telah mewujudkan cita-citamu bersekolah di luar negri, kini aku tak tau bagaimana keadaanmu sekarang anakku, kini ibu tak bisa memanjakanmu lagi anakku, kini ibu tak bisa masak kesukaanu lagi anakku.
Dua tahun sudah engkau tinggalkan ibu, setiap malamnya ibu selalu bermimpi bertemu denganmu, setiap malamnya ibu selalu berdo'a untukmu anakku, setiap malamnya ibu selalu mengharapkan kehadiranmu, terkadang ibu terbangun di tengah malam yang sunyi, ketika ibu menoleh ke kiri dan kanan engkau tak jua menemaniku anakku.
Ibu selalu berdo'a supaya engkau bisa menyelesaikan kuliahmu dengan secepatnya dan engkau bisa pulang kembali di pangkuanku, menemani malam-malamku, menghibur kesedihanku, menghilangkan rasa penatku, menumbuhkan semangat hidupku, menyejuki tubuhku dari sengatan matahari.
Anakku ibu sangat merindukanmu, ibu harap engkau disana rajin-rajin belajar, kamu harus mampu mengalahkan teman-temanmu dalam maraih prestasi, karena engkaulah harapan itu, ibu telah bosan dengan tipu daya penguasa Negara ini, ibu ingin tatkala engkau pulang nanti kau mampu menggantikan mereka yang duduk di kursi kemewahan, memerintah orang dengan tidak punya perasaan.
Kamu pasti ingat perkataan ayahmu, yang kini telah tiada lagi disisi kita anakku, dia selalu berpesan kepada kita supaya tidak terbuai dengan dunia yang sifatnya hanya sementara, ia selalu perpesan kepada ibu untuk menjaga dan menyanyangimu.
Anakku betapa besar pengharapan ayahmu kepadamu, kalaulah ia sekarang ada disisi kita, betapa bahagianya ia melihat anaknya mampu bersekolah di luar negri yang jauh di pandangan mata, sungguh ia akan merelakan semua tenaganya untukmu anakku.
Kamu jangan sesekali mengecewakannya.
Anakku, kini ibu telah menggarap sebuah sawah yang tak jauh dari rumah kita tinggal dulu, ibu melakukan itu demi sekolahmu di negri yang jauh di seberang sana, ibu akan mempekerjakannya dengan sebaik-baiknya.
Anakku, dulu ketika engkau masih kecil, masih mungil,engkau sering ketawa, dan menangis engkau selalu bermain dengan ayahandamu, disaat itu ibu berusaha memberikan susu yang terbaik untukmu, ibu selalu memberikan makanan yang mampu memperlaju pertumbuhanmu, ketika di pertengahan malam engkau selalu terbangun dan menangis, engkau minta disusui, disaat itu pula ibu merasakan kegelisahanmu, lantas dengan sekejap engkau kurangkul dan aku memberimu minum hingga engkau tidur kembali, hal itu engkau ulangi berkali-kali, bahkan hampir setiap malam.
Anakku, harus engkau ketahui bahwa dunia ini adalah titipan, berupa amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita anakku, maka perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya, jangan sampai engkau ternodai oleh dunia yang fana ini, jangan sampai engkau terlena dengan kehidupan mewah yang akan membawamu menuju jurang kehancuran.
Anakku, ibu sangat mencintaimu, ibu merindukan pelukanmu, ibu menginginkan tawa dan tangismu, ibu mendambakan cita-citamu.
Jadilah engkau menjadi orang yang hidup di dunia ini dengan hidup yang mulia dan matimu meraih maghfirah,rahmat, kasih sayang dari allah sang pencipta langit dan bumi beserta isinya.
Kamu harus ingat juga dengan pepetah " jadilah engkau matahari,dan awan yang mampu menerangi alam dan memberi hujan, dan janganlah mendaji asap yang hanya mampu membuat orang lain tersesak dengan kedatanganmu disisi mereka"
Kamu harus ingat juga kata-kata dari ayahmu " terkadang kita merasakan apa yang kita inginkan sudah tercapai dan telah sempurna, namun harus kita ketahui pula behwasanya itu belum apa-apa, bukan usaha kita menjadi orang sukses adalah tolak ukurannya akan tetapi sudah mampukah kita menjadikan orang lain sukses..? kalau sudah, berapa banyakkah sudah orang kita sukseskan, ketika sudah banyak, coba kita bandingkan dengan kualitas orang yang tak mampu meyukseskan dirinya" kata-kata ayahmu inilah yang selalu abi tanamkan dalam hati.
Ibu ingin menyukseskan dirimu, dan hingga akhirnya nanti engkau mampu menyukseskan banyak orang lain.
Mungkin hanya ini yang mampu ibu sampaikan kepadamu anakku, sekali lagi rajin-rajinlah engkau belajar, supaya engkau bisa menjadi problem sulver ummat ini.
Dan akhirnya
”Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh."

Banda Aceh, 25-06-1992