Belajar adalah sebuah tuntutan agama islam kepada
pemeluknya, bukan hanya ingin mendapatkan sebuah title ataupun ijazah, dan yang
terpenting adalah keinginan kita untuk mendapatkan keridhoan Allah.
Bagaimanakah belajar efektif itu..?
silahkan simak wawancara kami pada salah seorang doktor indonesia lulusan Al-Azhar Cairo Mesir, yang baru saja menyelesaikan s3nya di Al-Azhar
silahkan simak wawancara kami pada salah seorang doktor indonesia lulusan Al-Azhar Cairo Mesir, yang baru saja menyelesaikan s3nya di Al-Azhar
Apa yang memotivasi
ust kok melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar, karena realita kita melihat,
banyak dari mahasiswa Al-Azhar yang mengatakan Al-azhar itu sulit apalagi
majisternya..?
Kalau kemampuan saya terus terang sangat pas-pasan, di
bangdingkan dengan temen yang lain, saya masih di bawah mereka, contohnya saya
itu waktu tamhidi, tamhidi saya termasuk lama padahal waktu itu adalah tamhidi kesempatan terakhir,
hampir mafsul, karena saya jauh dari teman-teman.
Di waktu itu saya tinggal di Qotamiyah, kemudian saya pindah
ke helwan dengan tujuan di sana ada satu kawan namanya Badruddin, satu angkatan
juga, belaiu juga sama-sama tamhidi satu dengan saya, saya pindah biar
tamhidinya bareng, jadi dengan tinggalnya di Helwan ada temen untuk belajar
bersama, saling menukar pikiran, saling simak menyimak pelajaran, semangat juga
ada, dan saya mengakui kemampuan beliau itu lebih dari pada saya, ketika
seminggu atau dua minggu sebelum ujian beliau mengambil keputusan untuk tidak
ikut ujian, karena takut mafsul.
Kamudian saya bilang “nah ini dia kesempatan terakhir,
walaupun saya mafsul nanti, di bilang oleh masyarakat indonesia ataupun mahasiswa
Mesir saya mafsul, saya siap mental dan segalanya, karena menurut saya belajar
adalah sebuah tuntutan agama islam kepada pemeluknya, dan yang terpenting
adalah keinginan saya untuk mendapatkan keridhoan Allah”. Nah, itu sebagai
pegangan kalau kita ingin belajar sukses.
Kita juga harus meluruskan niat, tanpa melihat komentas
orang lain, mau dibilang mafsul, atau dikatain bodoh, atau di bilang nggak aktif
di organisasi, yang terpenting kita ingin sukses di Al-Azhar, semata-mata bukan
tujuan kita hanya untuk mendapatkan ijazah, atau supaya di pandang orang bagus,
dan memang belajar merupakan sebuah kewajiban supaya sukses.
Kalau saya hanya mampu menyelasaikan s1nya di Al-Azhar, saya
menganggap itu, sebuah pembelajaran yang tidak sempurna, dalam artian
setengah-setengah, kemudian saya melanjutkan s2 dan s3 biar lebih matang, itulah sebuah motivasi yang membuat membuat
semangat saya melejit tinggi ke angkasa dalam istilahnya sehingga saya dengan
tekat dan tak lupa shalat istikharah dan langsung melanjutkan s2 dan s3nya di
Al-Azhar.
Ada juga teman saya orang jawa tengah, beliau mengkritik
saya karena beliau melihat saya selalu gagal dalam ujian, kata beliau “ kenapa
antum ngambil fiqih..? fiqih itu belum ada yang berhasil dari dulu” kemudian
saya menjawab dengan pelan saja “ saya terus terang saja, saya masuk fiqih
karena saya sudah istikhoroh, mantap, mantap niat, mantap kesiapan.”
Kemudian kawan itu tadi pulang ke indonesia, dan Alhamdulillah sekali dengan kesempatan
terakhir itu saya najah, Alhamdulillah sekali.
Sekarang antm sudah
menyelesaikan program s3nya di Al-Azhar, ini adalah sebuah pretasi yang jarang
sekali di raih oleh mahasiswa indonesia khususnya, apalagi di bidang fiqih belum ada yang lulus dari dulu. Jadi, apa-apa
aja cara atau metode yang telah antum lalui selama ini sehingga mampu
menyelesaikan study di Al-Azhar dengan gelar doktor pula..?
Tentunya setiap tingkatan-tingkatan itu mempunyai metode dan
cara yang berbeda meskipun ada kesamaan, tapi kesamaan itu juga tidal
sepenuhnya, dalam artian kalau kita sedikit melihat di tamhidi dan s1, keharusan bagi kita untuk
mengulang, memahami, dan menghafal. Namun, s1 dengan tamhidi itu juga ada perbedaan
cara, misalkan dalam menilainya, mungki kalau s1 terkadang ada tasamuh dari
duktur-dukturnya, misalkan uslub tulisan kita salah itu masih dibenarkan dari
para duktur, sedangkan di tamhidi, kalau kita salah dalam menuliskan uslub, itu
tidak ada tasamuh, meskipun jawabannya secara umum udah betul, makanya kenapa
orang-orang mengatakan Al-Azhar itu susah..? ya karena itu tadi, sebenarnya
kembali kepada kita sendiri, apakah kita mampu memberikan jawaban yang benar
dengan uslub yang benar.
Kalau s3 di Al-Azhar agak lumanyan mudah di bandingkan
dengan di indonesia, karena klw di indonesia masih ada materi atau
muhadarahnya, tp klw di Al-Azhar kita langsung nulis, makanya agak mudah, tapi
yang lebih susahnya ngajuin judulnya itu, terkadang sekali kita ngajuin belum
tentu di terima.
Dari itu semua pasti
ada kendala yang harus kita jalani, jadi apa2 aja kendala2 selama ini yang
antum hadap..? supaya bisa menjadi pelajaran bagi kita yang masih menempuh
perjalanan panjang ini ust..?
Yang namanya
rintangan, kendala, hambatan, itu memang setiap orang mengalaminya, dan memang
tak pernah hilang dari setiap orang, dan saya juga mengalami hal yang sama, dan
pastinya rintangn seyiap orang itu
beragam-ragam dan berbeda-beda, tapi saya menjadikan rintangan itu sebagai kasih
sayang dari Allah kepada saya.
Ada sebuah hambatan yang masih segar sekali dalam ingatan
saya,pada suatu hari ada sebuah teman seorang cewek, anak kiyai, dia minta
bimbingan kepada saya, akhirnya kami dekat dan semakin dekat, ya sedikit
terganggu sih, tapi saya tetap konsentrasi dan akhirnya dia menjauhi saya dan
sayapun menjauh, ternyata dalam perkembangan berikutnya dia malah udah punya
pacar di Cairo, dia sering pacaran, ya klw bagi saya sih nggak jadi masalah,
walaupun pertama sekali mengenal cewek, saya nilai tu sebuah cobaan saya, saya
merasa biasa aja, dan ternyata dia udah menikah, Alhamdulillah nggak apa2,
nggak ada rasa marah, benci dan lain sebaginhya.
Makanya dalam sholawat Yusriyah itu, saya sering ikut ngaji
dengan syeh Yusri: bahwa setiap langkah kita, apapun yang kita alami, zhohiran
wa batinan merupakan rahmat dari Allah, kasih sayang, mampukah kita mendalami
dan merasakan rahmat itu, kalau ada orang sakit, sakit yang sangat parah, itu
merupakan sebuah rahmat dari Allah, mungkin dia sering berbuat salah,
bermaksiat dll, akhirnya Allah memberikan kepadanya sebuah rahmat untuk
mengampuni dosa-dosanya itu, karena ketika sakit dia malah sering beristighfar,
berzdikir, dan mengingat Allah.
Dengar2 antm sudah
berusia 35 tahun dan masih lajang, kelihatannya ust lebih mengedepankan belajar
dari pada study, kenapa antm lebih mengutamakan belajar dari pada nikah..? kan
kebanyakan orang kepengen nikah dulu baru menyelesaikan studynya..?
Saya lahir tanggal 25 juni 1977, memang sebagian orang
mengatakan nikah itu mendukung study, ada juga yang melihat bahwa nikah itu
dalam artian bukan menghambat study tapi akan memperlambat peruses pembelajaran itu,
begitu juga dengan saya, kalau saya mendahulukan nikah, maka akan membutuhkan
perosesnya lebih lama, akan nambah dua tahun lagi paling tidak, karena kalau
sudah menikah pastinya akan memikirkan anak memikirkan istri dan lain
sebagainya.
Terus tradisi orang juga kan berbeda-beda, ada orang yang
udah biasa mengenal cewek dari indonesia, jadi ketika di cairo nggak bisa nggak
kenal cewek, tapi kalau saya berbeda, memang udah dari SMA dulu nggak suka
berbaur dengan cewek, bisa dikatakan fasif gitu, dan kebiasaan saya memang jauh
dr cewek, makanya ketika di Cairo saya biasa-biasa aja, makanya saya membujang
sampai s3nya.
Kalau ditelpon sama orang tua, itu selalu, di tanya kapan
nikah lah, dulu ketika saya terakhir pulang ke indonesia waktu kepengurusan
PNS, orang tua saya nyuruh nikah malahan beliau berkata “ nggak boleh pulang
sebelum menikah” kemudian saya berhasil memahamkan orang tua dan keluarga “
kalau saya menikah sekarang pasti di Caironya akan membutuhkan studynya lebih
lama paling nggak nambah dua tahun lagi, tapi kalau saya diizinkan membujang,
fokus sekarang untuk kuliah, insya Allah dua tahun akan selesai.
Dan memang terbukti, terhitung dari bulan Syawwal tahun 2010
dan sekarang baru kita melalui syawwal 2012, terhitung dua tahun lebih
sedikitlah. Alhamdulillah berkat do’a orang tua dan kerabat semuanya dijawab
oleh Allah.
Kesan selama belajar di Mesir gimana ust, mungkin disana
banyak pengalaman, atau kehidupan selama di Mesir..?
Sisi kehidupan mesir ini kan nggak teratur, sering ngantri,
angkutan sering penuh, nggak ada rambu-rambu lalulintas, sering bentrok, ketika
kepengurusan birokrasi sering mendapatkan bukroh, itu semua adalah salah satu
pekerjaan yang mampu menimbulkan jenuh,bosan,bete bagi kita, apalagi kita-kita
yang dari indonesia, tapi saya jadikan semua itu adalah sebuah nilai upaya untuk menumbuhkan semangat, semangat
untuk tidak pernah putus asa terutama dalam hal study.
Contohnya saja yang saya alami, di pasca sarjana, atau ketika
tamhidi, karena sudah terbiasa ikhlas dengan kehidupan di Mesir, walaupun
bukroh jalan terus, sehingga sesulit apapun yang kita alami, kita berusaha
untuk ikhlas dan semangat.
Kenapa masih melanjutkan s2 dan s3nya di Al-Azhar,
padahal di luar sanakan banyak universitas2 yang lebih lengkap dan lebih elit,
seperti Jami’ah Qahiroh, atau di universitas2 yang ada di Erupa dan Amerika..?
Memang kata sebagian ilmuan di Indnesia harus seperti itu,
dalam artian idealnya kalau setelah s1 dan s2 di Al-Azhar, minimal s3nya di
Eropa gitu, dan memang terbukti metodelogi orang-orang yang tamatan dari eropa
itu jauh lebih tinggi dari pada kita yang ada di Al-Azhar ini, lebih mapan di
bandingkan dengan kita lulusan Al-Azhar, karena kan kita kalau di Al-Azhar
hanya mengandalkan hafalan saja, tidak ada realitanya, makanya terkadang kita
itu menjadi fasif.
Tapi ya itu, kuliah di jami’ah qohiroh, atau di
Universitas-universitas di luar negeri sana seperti di Eropa, dan Amerika hanya
sebuah angan-angan yang tidak mudah untukk dicapai, tidak semudah membalikkan
telapak tangan, apalagi di jami’ah Qohirah, yang terkenal dari dulu itu mahal, memang tahun pertama aja
terlalu mahal, setelah tahun ketiga nanti agak murah, meskipun demikian tetap
tidak mudah, karena kita kan di Al-Azhar tidak bayar, mungkin lebih tepatnya
dilihat dari segi ekonomi orang tua yang tidak memadai, sehingga hanya memilih
di Al-Azhar saja.
Yang terakhir,
mungkin ada Pesan-pesan untuk mahasiswa kita yang masih duduk di strata s1 atau
s2, sebagai motivasi gitu ust, mungkin sudah ada yang futur atau gmn gitu ust,
mudah-mudahan dengan dengan membaca pesan-pesan dari antm kita yang masih lama menempuh jalan di
Al-Azhar ini bias mengambil pelajaran dari antm.
Kita harus belajar serius, fokus pada pelajaran yang telah
ditetapkan di Kuliah, disamping belajar itu kita juga harus selalu memperbaharui
niat, kemudian kita harus mempunyai semangat yang teguh, tanpa mengenal putus
asa.
Satu hal yang mungkin yang ingin saya sampaikan mengapa
belajar itu sebuah hikmah. Nah, di dalam kitab Al-Hikam itu dikatakan إدفن نفسك في الأرض الغمود...
yang intinya tanamlah dirimu
dalam-dalam di tanah, karena suatu
tumbuhan akan membawakan hasil kalau di tanam dalam-dalam, beda dengan tumbuhan
yang di tanam asal-asalan, meskipun tumbuh ia sangat lemah mudah tumbang,
meskipun berbuah tidak efektif. Nah, begitu juga dengan diri kita semakin kita serius dalam belajar semakin kita
tidak ingin dikenal banyak orang, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin
mengenalkan diri , dikenal sebagai intlektual muda di masyarakat, punya
semangat juang, selama kita belajar yang seperti itu kita tinggalkan dulu,
karena itu sangat berpengaruh dengan hasil masa depan kita.
(Ilham,Khalid)
