Penulis : Ilham Sujefri El-utsmany
Perang
saat ini di mesir dipicu oleh pengumuman kudeta terhadap Presiden Mursi oleh
Abdul Fatah As Sisi pada tanggal 30 Juni
2013. Selain kudeta, As Sisi menutup media seperti Aljazeera dan beberapa
chanel lainnya. Penduduk Mesir terpecah dua, sebagian dari masyarakat yang
tetap mendukung Presiden Mursi turun ke jalan, mereka melakukan demo dan menginginkan
Dr Muhammad Mursi menjadi Presiden Mesir.
Pada
awalnya demostran hanya sedikit. Namun dari hari ke hari demostran pro Mursi
semakin banyak hingga mencapai puluhan ribu. Mereka tidak hanya berasal dari
ibu kota Kairo, tetapi dari berbagai provinsi di Mesir. As Sisi mengetahui
bahwa demostran makin lama makin banyak, akhirnya Sisi mengambil tindakan
melakukan penembakan guna membubarkan demostran . Usaha yang dilakukan oleh
Sisi sia sia, karena para demostran bukannya makin sedikit tetapi semakin lama
semakin banyak.
Salah
satu jurnalis Mesir mengatakan “ sebenarnya Sisi tidak mempunyai pilihan lain,
jika Sisi menyerag dan memberikan kekuasaan kembali ke Dr Mursi, maka Sisi yang
akan dikejar oleh massa dan Sisi juga takut jalur keturunannya akan terhapus di
Mesir “.
As
Sisi beranggapan bahwa tindakannya akan disegani oleh masyarakat Mesir jika
berhasil membubarkan para demostran, tetapi saat ini yang terjadi sebaliknya.
Tindakan Sisi dikecam oleh berbagai Negara Arab dan juga masyrakat
International. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengecam keras atas
perbuatan Sisi dan polisi Mesir terhadap pendukung Mursi. Erdogan mengatakan “
Dihati mereka tidak melunak sedikitpun meskipun di bulan Ramadha. Ketika kaum
muslimin sedang menyiapkan sahur, terjadi pembantaian di Mesir. Dimana Eropa ?
Dimana AS? Dimana nilai nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi, mereka yang
mengajarkan kepada Kami arrti demokrasi, dimana PBB ? mereka yang berteriak
marah ketika polisi Turki menyemprotkan gas airmata dengan cara yang dibenarkan
oleh hokum, lalu dimana mereka ketika kudeta dan pembantaian yang terjadi di
Mesir ? “.
Puncak
dari penembakan terjadi pada tanggal 14 Agustus, para tentara dan polisi
mengusir paksa para demonstran dari lapangan Rabeah Al Adawiah. Mereka
menembakan gas air mata dan menembaki para demostran. Yang lebih parah, tenda
dan kamp-kamp para demostran dibakar disaat demostran sedang beristirahat, dan
mereka juga membakar mesjid Rabeah. Bahkan, rumah sakit darurat yang penuh oleh
para demostran yang terluka juga dibakar oleh polisi militer dan tentara, semua
yang ada didalamnya hangus terbakar.
Salah
satu kepala dokumentasi rumah sakit darurat Rabeah Al –Adawiah mengatakan
melalui channel Aljazeera :
Saya
menyaksikan di depan mata saya, seorang pasien ditembaki dengan sengaja hingga
tewas oleh pihak keamanan yang membakar lokasi. Saat itu, dokter yang merawat
pasien memohon untuk membiarkannya mengobati pasien tsb, karena kakinya
putus. Tetapi, dengan dingin, polisi
menembak tepat dada pasien malang tsb.
Dalam
data yang ada saat itu, tidak kurang dari 2600 jenasah di rumah sakit darurat,
dan lebih dari 7000 pasien luka luka. Semua dokumen data dimusnahkan oleh
polisi saat pembakaran sedang berlangsung.
Hingga
saat ini jumlah angka kematian demostran melebihi angka 6000 orang dan yang
mengalami luka luka lebih dari 15000 orang.
Banyak pemberitaan di berbagai
media yang ada saat ini memutarbalikan fakta. Pemberitaan yang mengatakan bahwa
masyarakat mendukung kudeta terhadap Dr Mursi, dan yang terbunuh hanya ratusan
orang. Sungguhlah semuanya tidak benar. Media media tersebut telah diancam dan
dibayar oleh Sisi untuk tidak memberitakan kesalahn yang dilakukan oleh
militer, dan menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.
Pada tgl 15 Agustus, demostran pro
legitimasi bersepakat untuk melakukan demo besar besaran dan mereka menamakan
hari itu adalah hari jum’at kemarahan.
Aksi demo ini meramaikan jalan jalan diberbagai tempat di kota Kairo
seperti Ramsis, Alfu Maskan, Nishfil Bald, dan di beberapa tempat yang ramai.
Hal ini dilakukan setelah
terjadinya pembantaian dan penembakan yang membabi buta oleh pihak militer pada
tanggal 14 Agustus di Rabeah Al-Adawiah yang telah memakan korban ribuan orang
yang kebanyakan hangus terbakar.
Polisi militer dan tentara mesir
kembali mengunakan gas air mata dan peluru api untuk membubarkan demostran yang
berada di Ramsis. Korban yang meninggal mencapai 95 orang bahkan lebih, dan
para korban di evakuasi ke dalam mesjid Al-Fattah yang berada di Ramsis.
Para pro legitimasi tidak mau
menunjukkan perlawanan dengan mengunakan senjata. Mereka tetap sabar, walaupun
harus menahan sakit melihat mayat mayar saudara mereka yang masih bergeletakan
dan terbakar di lapangan Rabeah Al-Adawiah. Mereka tetap melakukan demo turun
ke jalan. Bukan hanya di kota Kairo, tetapi di provinsi-provinsi lain di Mesir,
mereka turun memenuhi jalan untuk menunjukkan aksi penolakan mereka terhadap
perbuatan As-Sisi.