Senin, 19 Agustus 2013

Laporan dari Mesir


Penulis : Ilham Sujefri El-utsmany

Perang saat ini di mesir dipicu oleh pengumuman kudeta terhadap Presiden Mursi oleh Abdul  Fatah As Sisi pada tanggal 30 Juni 2013. Selain kudeta, As Sisi menutup media seperti Aljazeera dan beberapa chanel lainnya. Penduduk Mesir terpecah dua, sebagian dari masyarakat yang tetap mendukung Presiden Mursi turun ke jalan, mereka melakukan demo dan menginginkan Dr Muhammad Mursi menjadi Presiden Mesir.
Pada awalnya demostran hanya sedikit. Namun dari hari ke hari demostran pro Mursi semakin banyak hingga mencapai puluhan ribu. Mereka tidak hanya berasal dari ibu kota Kairo, tetapi dari berbagai provinsi di Mesir. As Sisi mengetahui bahwa demostran makin lama makin banyak, akhirnya Sisi mengambil tindakan melakukan penembakan guna membubarkan demostran . Usaha yang dilakukan oleh Sisi sia sia, karena para demostran bukannya makin sedikit tetapi semakin lama semakin banyak.
Salah satu jurnalis Mesir mengatakan “ sebenarnya Sisi tidak mempunyai pilihan lain, jika Sisi menyerag dan memberikan kekuasaan kembali ke Dr Mursi, maka Sisi yang akan dikejar oleh massa dan Sisi juga takut jalur keturunannya akan terhapus di Mesir “.
As Sisi beranggapan bahwa tindakannya akan disegani oleh masyarakat Mesir jika berhasil membubarkan para demostran, tetapi saat ini yang terjadi sebaliknya. Tindakan Sisi dikecam oleh berbagai Negara Arab dan juga masyrakat International. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengecam keras atas perbuatan Sisi dan polisi Mesir terhadap pendukung Mursi. Erdogan mengatakan “ Dihati mereka tidak melunak sedikitpun meskipun di bulan Ramadha. Ketika kaum muslimin sedang menyiapkan sahur, terjadi pembantaian di Mesir. Dimana Eropa ? Dimana AS? Dimana nilai nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi, mereka yang mengajarkan kepada Kami arrti demokrasi, dimana PBB ? mereka yang berteriak marah ketika polisi Turki menyemprotkan gas airmata dengan cara yang dibenarkan oleh hokum, lalu dimana mereka ketika kudeta dan pembantaian yang terjadi di Mesir ? “.
Puncak dari penembakan terjadi pada tanggal 14 Agustus, para tentara dan polisi mengusir paksa para demonstran dari lapangan Rabeah Al Adawiah. Mereka menembakan gas air mata dan menembaki para demostran. Yang lebih parah, tenda dan kamp-kamp para demostran dibakar disaat demostran sedang beristirahat, dan mereka juga membakar mesjid Rabeah. Bahkan, rumah sakit darurat yang penuh oleh para demostran yang terluka juga dibakar oleh polisi militer dan tentara, semua yang ada didalamnya hangus terbakar.
Salah satu kepala dokumentasi rumah sakit darurat Rabeah Al –Adawiah mengatakan melalui channel Aljazeera :
Saya menyaksikan di depan mata saya, seorang pasien ditembaki dengan sengaja hingga tewas oleh pihak keamanan yang membakar lokasi. Saat itu, dokter yang merawat pasien memohon untuk membiarkannya mengobati pasien tsb, karena kakinya putus.  Tetapi, dengan dingin, polisi menembak tepat dada pasien malang tsb.
Dalam data yang ada saat itu, tidak kurang dari 2600 jenasah di rumah sakit darurat, dan lebih dari 7000 pasien luka luka. Semua dokumen data dimusnahkan oleh polisi saat pembakaran sedang berlangsung.
Hingga saat ini jumlah angka kematian demostran melebihi angka 6000 orang dan yang mengalami luka luka lebih dari 15000 orang.
Banyak pemberitaan di berbagai media yang ada saat ini memutarbalikan fakta. Pemberitaan yang mengatakan bahwa masyarakat mendukung kudeta terhadap Dr Mursi, dan yang terbunuh hanya ratusan orang. Sungguhlah semuanya tidak benar. Media media tersebut telah diancam dan dibayar oleh Sisi untuk tidak memberitakan kesalahn yang dilakukan oleh militer, dan menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.
Pada tgl 15 Agustus, demostran pro legitimasi bersepakat untuk melakukan demo besar besaran dan mereka menamakan hari itu adalah hari jum’at kemarahan.  Aksi demo ini meramaikan jalan jalan diberbagai tempat di kota Kairo seperti Ramsis, Alfu Maskan, Nishfil Bald, dan di beberapa tempat yang ramai.
Hal ini dilakukan setelah terjadinya pembantaian dan penembakan yang membabi buta oleh pihak militer pada tanggal 14 Agustus di Rabeah Al-Adawiah yang telah memakan korban ribuan orang yang kebanyakan hangus terbakar.
Polisi militer dan tentara mesir kembali mengunakan gas air mata dan peluru api untuk membubarkan demostran yang berada di Ramsis. Korban yang meninggal mencapai 95 orang bahkan lebih, dan para korban di evakuasi ke dalam mesjid Al-Fattah yang berada di Ramsis.
Para pro legitimasi tidak mau menunjukkan perlawanan dengan mengunakan senjata. Mereka tetap sabar, walaupun harus menahan sakit melihat mayat mayar saudara mereka yang masih bergeletakan dan terbakar di lapangan Rabeah Al-Adawiah. Mereka tetap melakukan demo turun ke jalan. Bukan hanya di kota Kairo, tetapi di provinsi-provinsi lain di Mesir, mereka turun memenuhi jalan untuk menunjukkan aksi penolakan mereka terhadap perbuatan As-Sisi.


Tidak ada komentar: