Semuanya siap menunggu perutusan Islam. Timbulnya
penyambutan seperti itu adalah karena salah sangka. Mereka menyangka bahwa
orang-orang Arab itu jika telah melihat harta benda kekayaan yang begini
besarnya, menyilaukan mata, akan kendor hatinya untuk melanjutkan perang. Lalu
suruh saja mereka pulang saja ke negerinya dengan membawa “oleh-oleh”.Melihat
kekayaan itu, pasti orang-orang Arab itu akan mundur dan semangatnya patah. Begitulah
yang dipikir oleh Rustum.
Tetapi setelah melihat penyambutan yang seperti itu, dari
jauh Ketua Utusan telah mahfum apa yang dimaksud musuh dengan penyambutan
begitu. Lalu dia berbisik kepada anggota-anggota perutusan,”Kalian lakukan apa
yang nanti aku lakukan!”
Ketua Delegasi langsung masuk ke dalam ruang penyambutan
yang beralaskan permaidani tebal dan berturangkan sutera itu tanpa turun dari
kudanya. Setelah sampai di tengah ruangan, baru ia turun dari kudanya dan
anggota-anggota delegasipun serentak turun, sehingga hamparan-hamparan mahal
itu diinjak-injak oleh kuda. Kemudian mereka memautkan kuda-kuda tunggangan
mereka pada tonggak-tonggak tenda yang dipasang, sehingga berbisik-bisiklah
para pengawal bahwa Utusan-utusan Arab ini tidak tahu sopan santun dan etiket
pergaulan raja-raja.
Setelah berhadapan dengan Utusan Kaum Muslimin tersebut,
dengan sombong dan angkuhnya, Rustum menegur, seakan-akan kata memerintah :
“Apa yang menarik hati kalian keluar dari negeri kalian lalu
menyerang ke dalam negeri kami yang kaya raya ini? Apakah karena kalian kurang
makan? Jika demikian, pulanglah kembali. Akan kami perlengkapkan persediaan
makanana buat kalian.
Apakah karena kalian bertelanjang, tidak berkain dan
berbaju? Jika demikian, pulanglah! Akan kami sediakan kain baju sampai
memuaskan kalian.
Apakah karena kalian melarat miskin? Jika demikian,
pulanglah, kami akan memberi anugerah emas perak buat kalian, supaya kalian
mengecap kekayaan pula”.
Mughirah bin Syu’bah (salah seorang sahabat yang langsung
mendapat didikan juga dari Nabi SAW, yang nyaris menempeleng utusan Quraisy,
pada perundingan di Hudaibiyah di tahun keenam Hijriyah, karena ketika
bercakap, utusan Quraisy itu mengangkat-angkat tangannya dihadapan Nabi SAW,
sehingga nyaris tersinggung jenggot Nabi SAW). Mughirah lalu menjawab
pertanyaan Rustum :
“Engkau salah sangka! Bukan untuk apa yang engkau sangka itu
kami datang menyerbu ke negeri ini dan siap berjuang berkuah darah bersabung
nyawa. Bukan karena lapar, bukan karena bertelanjang kurang kain, kurang baju,
bukan karena kekurangan perhiasan dan kekayaan dan kemegahan. Sudah engkau
lihat sendiri, sepeserpun tidak ada harganya bagi kami permaidani-permaidani
tebal ini, emas perak yang engkau hidangkan ini, mahlota-mahkota yang
berhiaskan ratna mutu manikam yang memberatkan kepala kalian ini, bantal-bantal
penyenang duduk berhiaskan mutiara dan merjan. Omong kosong semua. Bahkan kami
datang kepada kamu kemari karena kami mempunyai tugas yang diterima langsung
dari Allah, untuk menyampaikan Kalaimatul Haq, Kata-Kata Kebenaran kepada
kalian. Kalian hidupdalm jalan fikiran yang gelap selama ini! Kami datang
hendak membimbing kalian kepada tempat yang terang. Kalian selama ini hanya
budak-budak dari benda-benda itu.Kalau kalian mau menerima ajakan dan anjuran
kami, negeri ini tetap di tangan kalian dan kami akan pergi ke tempat lain pula
menyerukan seruan ini, dan sejak kini kita hidup bersama dalam satu keyakinan
dan Iman, tidak ada kelebihan kami dari kalian dan tidak ada kekurangan kalian
dari kami”.
Tetapi Rustum mendengarkan jawaban itu dengan sombong dan
angkuhnya, sehingga perundingan gagal, dan peperangan hebat Qadisiyah yang
terkenal itupun terjadi. Kedaulatan Persia yang megah, Kerajaan Bani Sasan yang
telah berusia beratus tahun sebelum itupun jadi runtuh. Maka tidaklah menolong
kuda, kendaraan berpelana berterawang emas, pedang jinawi bersalut emas,
mahkota bertatah ratna mutu manikam. Tidaklah ada faedahnya sama sekali,
berhadapan dengan suatu tentara yang baru bangkit, penih keimanan, tidak takut
mati, yang pedangnya memutuskan leher musuh bukan karena sarungnya emas, tetapi
karena tangan yang mengayunkannya kuat dan mata pedangnya tajam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar